Entri Populer

Rabu, 23 Oktober 2013

.::TERUNTUK SEORANG AKHY SHOLEH::.



Ku tulis bait ini dalam rangkaian malamku yang panjang
Ku ungkap getar ini dalam ragu yang tertahan…

Untukmu seorang ikhwan yang tak juga kunjung datang…
Aku bersama semua baktiku yang tertunda
Bersama sepotong cinta yang tak akan sempurna
Bila tidak juga kau ada…

Untuk calon suamiku yang tidak ku tahu ada dimana
Kelak bila kau datang izinkan bakti dan taatku melebur bersama senyummu..
Izinkan cinta dan kehormatanku terpatri kuat untuk menjaga kehormatanmu…

Untuk calon suamiku yang sedang berdakwah entah dimana
Ketahuilah…
Bahwa aku wanita asing bagimu
Nanti terangkanlah apa - apa yang tidak kumengerti darimu
Terangkanlah apa-apa yang tidak tersukai darimu
Agar istri solehah menjadi mahkota mendampingimu…

Untuk calon suamiku yang masih sibuk dalam kelelahanmu…
Ketahuilah bahwa aku selalu menunggumu..
Menunggu menjadi kendaraan yang nyaman buatmu..
Menjadi rumah yang lapang untukmu…
Menjadi penunjuk jalan yang lurus untukmu…
Menjadi penyejuk hatimu…

Dan Wahai engkau calon pengobat cintaku…
Bila nanti Allah rizkikan engkau untukku
Maka semoga aku juga menjadi rizki mulia untukmu…
Bersama menyempurnakan hati dalam Mahabah-Nya..
Menyemarakan dakwah dengan para Jundi - jundi Allah…

Aku bersama kesederhanaan yang terbalut takwamu…
Bersama menggapai perjuangan ini…
Yang karenamu Allah semakin sayang padaku…
Pada dakwahku…

Senin, 21 Oktober 2013

.::UNTUK KITA RENUNGKAN::.




Siap atau Tidak Suatu hari
semuanya pasti akan berakhir
Tidak akan ada matahari terbit
tidak ada menit, jam ataupun hari

Semua materi yang dikumpulkan
Kekayaan,ketenaran dan kekuasaan
Tidak akan berarti dimata Tuhan


Sehingga tidak akan penting lagi
segala sesuatu yang pernah dimiliki
atau yang pernah dengan bangga dikuasai

Segala macam rasa dendam,dengki
frustasi dan juga rasa iri hati
pada akhirnya akan hilang tiada arti
Begitu pula Kemenangan dan kekalahan
yang dahulu sangat penting akan lenyap


Tidak berarti lagi darimana kamu berasal

Tidak berarti lagi apakah kamu cantik atau brillian
Tidak berarti lagi apakah kamu pernah menjadi pujaan 
Jadi apakah yang akan berarti?

Yang kemudian berarti
Bukan apa yang kamu beli
Namun apa yang kamu bangun
Bukan apa yang kamu peroleh
Tapi apa yang kamu berikan

Yang kemudian berarti

bukanlah apa yang kamu pelajari
namun apa yang sudah kamu ajarkan
Bukanlah kemampuan yang kamu miliki
Namun karakter yg kuat & penuh kelembutan hati


Yang kemudian berarti

bukan seberapa banyak orang yang Kamu kenal
namun seberapa banyak yang akan merasakan kehilangan
ketika kamu pergi meninggalkan dunia yang tak abadi ini

Yang kemudian berarti

bukanlah yang kamu kenang
namun kenangan tentang dirimu
yang terus hidup dalam hati mereka yang mencintaimu

Sahabat, Yang kemudian berarti
adalah seberapa lama kita akan diingat
oleh siapa dan bagaimana kita dikenang

Maka tentukan pilihan pilihan terbaik dalam hidupmu


Agar kamu bisa pergi dengan tenang dan tersenyum
 Agar kamu bisa menghadap kepada tuhan tanpa penyesalan.





Jumat, 13 Juli 2012

KESEMPURNAAN CINTA ADALAH MENGHARGAI KETIDAK SEMPURNAAN




Tidak ada yang sempurna dalam kehidupan ini, apalagi jika kita setiap kali mempermasalahkan ketidaksempurnaan seseorang atau sesuatu. Bukankah ketidaksempurnaan itulah yang
dapat memberikan kita berbagai pelajaran tentang kehidupan ini ...??

Sebuah ketidaksempurnaan, mengajarkan kita banyak hal ...
• bagaimana menjadi SABAR.
• bagaimana menjadi RENDAH HATI.
• bagaimana menjadi TEGAS.
• bagaimana menjadi MURAH HATI.

bahkan, ketidaksempurnaan juga mengajarkan kita melalui berbagai emosi negatif
yang mungkin kita rasakan ...

• saat kita MARAH.
• saat kita SEDIH.
• saat kita KECEWA

Kita belajar dari segala sesuatunya dan semua itu adalah karena ketidaksempurnaan.
Jadi mengapa kita harus menyalahkan dan mempermasalahkan sebuah ketidaksempurnaan...?

Tak ada satu hal atau satu orangpun yang sempurna di dunia ini.
Dan apakah kita tahu ...??

Kita akan merasakan kesempurnaan dalam hidup kita, saat kita benar-benar menghargai
adanya ketidaksempurnaan itu ...

Demikian halnya dalam cinta ...
Tak ada cinta yang sempurna ...

Karena kesempurnaan cinta itu adalah saat kita mencintai ketidaksempurnaan,
dan saat kita menyadari bahwa tak ada yang sempurna.

Cinta di hati.
Bagaimana mungkin kita mengukurnya...
Karena cinta bukanlah untuk diukur, dinilai atau dibuktikan...

Hanya untuk dinyatakan dan dirasakan.
Jika cinta itu berasal dari hati, maka hati pulalah yang mampu merasakannya.

Kamis, 12 Juli 2012

AKU TIDAK TAKUT NERAKA..!!!!


Kisah obrolan antara orang gila yang alim dan Abid (ahli ibadah) yang shalih.

Di suatu negeri, hiduplah seorang abid yang selalu bermunajat kepada Allah Ta’ala di setiap hari-harinya. Apabila dia ingat atas dosa-dosanya yang telah lalu, tak jarang dia menangis tersedu-sedu sehingga air matanya membasahi hampir sebagian baju yang dikenakannya.

Maklum saja, abid tersebut dulunya adalah seorang yang pernah hidup di lembah hitam yang sudah barang tentu, beraneka macam bentuk kemaksiatan sudah pernah dicicipinya.




Suatu hari, ketika abid tersebut sedang asyik dalam munajatnya dan menangis tersedu-sedu sehingga air matanya membasahi kedua pahanya, lewatlah orang gila melintasi tempat di dekat ahli ibadah tersebut bermunajat.

Dalam munajatnya, abid tersebut berkata:
“Wahai Tuhanku…janganlah masukkan aku ke neraka”.

“Belas kasihanilah aku…bersikap lembutlah kepadaku wahai Tuhanku”.
“Wahai Dzat yang Maha Rahman dan Rahim…jangan siksa aku dengan neraka-Mu”.

“Aku ini sangat lemah wahai Tuhanku…aku pasti tidak akan kuat bertempat di neraka-Mu…oleh karena itu, kasihanilah aku wahai Tuhanku”.

“Wahai Tuhanku…Kulitku ini sangat lembut, pasti tidak akan kuat menahan api neraka-Mu. Oleh karena itu wahai Tuhanku…Kasihanilah aku”.

“Wahai Tuhanku…tulangku sangat rapuh, tidak akan kuat menahan siksaan neraka-Mu, oleh karena itu wahai Tuhanku…Kasihanilah aku”.

Mendengar ucapan abid yang sedang bermunajat tersebut, orang gila yang sedang melintas tadi tiba-tiba tertawa terbahak-bahak dengan sangat keras sekali.

Ha ha ha ha ha  ha…!!

Karena merasa dilecehkan, sambil melotot abid tadi berkata:
“Wahai orang gila…apa yang sedang kamu tertawakan??!!”.

Dengan terkekeh orang gila tadi menjawab:
“Ucapan dalam munajatmu tadi sungguh membuatku tergelitik untuk tertawa”.

Abid menimpali:
“Ucapanku yang mana yang membuatmu tertawa wahai orang gila??!”.

Orang gila tadi menjawab:
“Engkau menangis karena takut dengan neraka…itulah yang membuatku tertawa terbahak-bahak!!”

Abid berkata:
“Apakah engkau tidak takut dengan neraka wahai orang gila??!”.

Sambil kembali tertawa terbahak-bahak orang gila tersebut menjawab:
“Ha ha ha ha ha….Sedikit pun aku tidak takut dengan yang namanya neraka”.

Abid berkata:
“oowwhh….benar, engkau memang benar-benar gila!!”.

Sambil sedikit menahan tawa, orang gila tadi menjawab:
“Kenapa engkau takut dengan neraka wahai abid, sedangkan engkau memiiliki Tuhan Yang Maha  Rahman dan Rahim??!, yang rahmat-Nya lebih luas dari apapun juga!!”.

Dengan agak takjub dengan ucapan orang gila tadi, abid tersebut menjawab:
“Sesungguhnya aku memiliki dosa yang apabila Allah Ta’ala meminta pertanggung jawaban kepadaku dengan keadilan-Nya, niscaya Allah akan memasukkan aku ke neraka”.

“Oleh karena itu aku menangis wahai orang gila…itu semua aku lakukan agar Allah Ta’ala berbelas kasihan kepadaku, mengampuni dosa-dosaku, tidak meminta pertanggung jawaban kepadaku dengan keadilan-Nya, tetapi dengan keutamaan dan kelembutan-Nya, sehingga Dia tidak memasukkan aku ke dalam neraka-Nya”.

Ha ha ha ha ha ha….!!

Mendengar jawaban abid yang sangat memilukan dan terkesan memelas tersebut, orang gila tadi kembali tertawa terbahak-bahak dengan suara yang lebih keras lagi.

Dengan kesal abid tersebut berkata:
“Apa yang engkau tertawakan wahai orang gila??!”.

Masih dalam kedaan terkekeh, orang gila tadi menjawab:
“Wahai abid…engkau memiliki Tuhan Yang Maha Adil yang tidak akan pernah berkhianat, tetapi engkau malah takut kepada-Nya”.

“Engkau memiliki Tuhan yang Maha Rahman, Maha Rahim, Maha menerima taubat…tetapi engkau malah takut dengan nerakanya”.

Sambil agak bingung dengan pernyataan orang gila tadi, abid tersebut berkata:
“Apakah engkau tidak takut pada Allah Ta’ala wahai orang gila??!”

Dengan sedikit tertawa orang gila tersebut menjawab:
“Iya…aku takut kepada Allah Ta’ala, tetapi takutku kepada-Nya bukan karena neraka-Nya”.
Mendengar jawaban orang gila tersebut, abid tadi bingung dan tidak habis pikir, kemudian bertanya:

“Jika engkau tidak takut dengan neraka-Nya, lalu apa yang membuatmu takut kepada Allah Ta’ala??!!”.

Tiba-tiba dengan mimik muka yang cukup serius, orang gila tadi menjawab:
“Yang aku takutkan adalah ketika nanti aku bertemu dengan Tuhanku dan Dia menanyaiku…wahai hamba-Ku, kenapa engkau bermaksiat kepada-Ku??!”.

“Jika saja aku ditakdirkan menjadi calon penghuni neraka, aku sangat berharap supaya aku dimasukkan neraka tanpa dihadapkan kepada-Nya dan ditanyai terlebih dahulu”.

“Api neraka lebih ringan menurutku dari pada harus menjwab pertanyaan Allah Ta’ala…aku pasti tidak akan mampu memandang-Nya dengan pandangan seorang pengkhianat ini, serta menjawab pertanyaan-Nya dengan mulut seorang penipu ini”.

“Jika saja dengan dimasukkannya aku ke neraka, itu semua membuat kekasihku ridlo kepadaku…maka dengan senang hati aku menerimanya”.

Kemudian dengan suara pelan dan masih dengan mimik muka serius, orang gila tadi kembali berkata:

“Wahai abid…maukah kamu aku beri tahu sebuah rahasia, tetapi jangan engkau bocorkan rahasia ini kepada siapapun??!”.

Dengan mimik muka bingung, abid tersebut menjawab:
“Apa rahasia tersebut wahai orang gila??!”.

Dengan agak berbisik orang gila tersebut menjawab:
“Taukah kamu wahai abid, bahwasanya Tuhanku tidak akan pernah memasukkan aku ke neraka…taukah kamu kenapaa!!”

Dengan terkejut dan bingung  abid tadi berkata:
“Loh….kok bisa begitu wahai orang gila??!”.

Dengan tenang dan tatapan mata menerawang jauh, orang gila tersebut menjawab:

“Itu semua disebabkan karena aku beribadah kepada-Nya dengan dasar cinta dan rindu, sedangkan engkau wahai abid, engkau beribadah kepada-Nya dengan dasar takut serta tamak akan surga-Nya”.

“Persangkaanku kepada-Nya lebih baik dari pada persangkaanmu…harapanku kepada-Nya lebih baik dari pada harapanmu”.

“Oleh karena itu wahai abid, perbaikilah harapanmu kepada Tuhanmu dengan sebaik-baik harapan”.

“Taukah engakau wahai abid…dulu ketika Musa alaihissalam melihat api di gunung Thursina lalu mendatanginya dengan harapan mendapat sedikit kehangatan dari api tersebut, ia kembali menjadi seorang Nabi, dan aku…aku pergi menuju Tuhanku dengan membawa cinta dan rindu untuk melihat keindahan-Nya, maka aku kembali sebagai orang gila”.

Setelah berkata demikian, tiba-tiba orang gila tersebut kembali terawa terbahak-bahak lalu pergi meninggalkan abid begitu saja.

Dan dengan dihinggapi rasa takjub yang luar biasa atas ucapan orang gila tadi, sambil kembali menangis abid tersebut berkata:

“Subhanallah…orang gila tadi adalah bukan orang sembarangan, dia adalah paling cerdas-cerdasnya orang yang pernah aku temui sepanjang hidupku”.

*Walaupun tidak jelas dari mana sumber kisah ini, namun tetap saya tulis. Yaaa….meskipun begitu, semoga tetap ada manfaat meski sedikit dari tulisan ini. Juga, semoga bisa menjadi ibaroh serta bahan renungan bagi kita semua…Aamiin

اللهم صل وسلم على سيدنا وحبيبنا محمد وعلى اله واصحابه ومن تبعهم بإحسان الى يوم الدين

Selasa, 10 Juli 2012

MENCINTAI KARENA ALLAH DENGAN SESUNGGUHNYA



Dalam hadist yang diriwayatkan dari Anas bin Malik dikisahkan.

Ada seorang sahabat yang berdiri disamping Rosulullah
Shollalahu Alaihi Wa Sallam, 
lalu seorang sahabat lain lewat dihadapan keduanya. 
Orang yang berada disamping Rosulullah itu tiba-tiba berkata,   
"Ya Rasulullah, aku mencintai Dia.“
"Apakah  engkau telah memberitahukan kepadanya?“, tanya Nabi.
"belum" jawab orang itu.
Rosulullah berkata, "Nah, kabarkanlah kepadanya!“.
Kemudian orang itu segera berkata kepada sahabatnya. 
"Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah.“
Dengan serta merta orang itu menjawab, 
'Semoga Allah mencintaimu karena engkau mencintaiku karena-Nya“. 
(HR. Abu dawud)

Rasulullah sering menganjurkan para sahabat untuk menyatakan 
rasa kasih sayang terhadap sahabat lainnya. 
Suatu ketika Beliau bersabda, 
"apabila seorang muslim mencintai saudaranya (karena Allah) 
hendaklah dia memberitahukan (kepadanya)“ 
(HR. Abu dawud dan Tarmidzi)

Membicarakan cinta sangatlah luas maknanya.  
Cinta itu artinya suka atau senang. 
Orang betawi bilang “demen”. Mengapa seseorang itu kita senangi? 
Karena dia pasti berkenan di hati kita. Karena hati merasa terkontak. 
Jadi standard cinta itu ada di hati. Cinta bersumber dari ketakjuban. 
Jika ketakjuban ini berlandaskan karena Allah alangkah indah rasanya.

Sayang kebanyakan kita telah salah persepsi dengan cinta, 
dimana makna cinta telah bergeser kepada birahi atau syahwat. 
Bila kata “CINTA” diungkapkan, persepsi kita langsung menggambarkan 
hubungan antara laki-laki dan perempuan yang belum menikah. 
padahal tidak semua cinta berorientasi syahwat, 
bahkan ada cinta yang merupakan suatu yang syar’i, suci, 
dan imani yaitu mencintai orang lain karena Allah dan iman kepada-Nya.

Ajaran islam menghendaki agar cinta antara sesama manusia 
dapat berlangsung karena mencintai dan mengimani Allah. 
 Standardises cinta ditentukan oleh iman dan amal sholeh dari orang yang dicintainya itu. 
Semakin tinggi keimanan seseorang, semakin untuk dicintai. 
Untuk itu, Allah telah mewujudkan bahwa iman itu sebagai sesuatu yang indah 
di hati orang-orang mukmin.

Rasulullah Shallalahu Alaihi Wa Salam bersabda,  
“Janganlah kalian menganggap sepele dari kebaikan sedikitpun, 
Walaupun hanya dengan menyapa saudaramu dengan muka manis” 
(HR. Muslim)

“Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. 
Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu 'cinta' kepada keimanan 
dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu 
serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. 
Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus, 
sebagai karunia dan nikmat dari Allah. 
Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Al-hujarat :7-8)

Memiliki rasa cinta kepada iman dan orang-orang mu’min 
merupakan rahmat dan karunia Allah yang besar. 
Ini merupakan kasih sayang Allah kepada setiap insan Mu’min. 
Rasulullah bersabda, 
Tiang yang paling kokoh dan iman adalah mencintai karena Allah 
dan membenci karena Allah" 
(HR. Muslim)

Karena itulah mencintai sesama muslim merupakan salah satu 
diantara parameter keimanan seseorang. 
Untuk memperkokoh parameter cinta karena iman ini, 
para sahabat nabi sering berdoa dengan ungkapan.  
“Ya Allah jadikanlah kami mencintai iman, 
dan jadikanlah iman itu indah didalam hati kami. 
Dan bencikanlah kami kepada kekafiran kefasikan dan kedurhakaan. 
Dan jadikanlah kami tergolong orang-orang yang benar".

Berlandaskan cinta kepada iman inilah setiap muslim wajib 
mencintai saudaranya sesama mu’min. 
Rasulullah Shollalahu Alaihi wasalam bersabda  
“Tidak beriman salah seorang kamu sehingga mencintai saudaranya 
(sesama muslim) seperti mencintai dirinya sediri." 
(HR. Muslim)

Iman kepada Allah dan Rasul serta cinta kepada sesama muslim tak mungkin terpisah, 
karena seluruhnya merupakan satu kesatuan. 
Dengan landasan cinta inilah persaudaraan (ukkuwah) itu terbentuk diantara sesama muslim.

Kenapa seseorang bisa jatuh cinta ?

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, 
kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) 
mereka rasa kasih sayang."
(Al Quran Al Karim Surah Maryam ayat 96)

"Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. 
Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu 
dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat". 
 (Al-Hujarat : 10)

Kecintaan seorang muslim terhadap muslim lainnya 
tentu bukan disebabkan nafsu syahwat yang memuncak dalam perasaannya, 
tetapi karena kesadaran terhadap ukhuwah dan peningkatan iman kepada Allah dan Rasul-Nya. Kecintaan terhadap akhlaq yang mulia atau ketaatan dan ketakwaannya kepada Allah. 
Karena itu, ungkapan cinta mereka bukan merupakan pernyataan gombal 
diantara mereka seperti halnya ungkapan-ungkapan cinta oleh orang-orang sekarang yang mengikuti dari golongan non muslim yang hanya disampaikan setiap hari valentine saja Dan hari hari tertentu lainnya.. 
Tapi haruslah mengungkapkannya seperti yang disunnahkan oleh Rasululah.

Islam membimbing kita agar mengutarakan perasaan cinta ini dengan terus terang yaitu uhibbuka fillah atau uhibbuki fillah. 
Ungkapan ini membedakan antara cinta yang dilandasi iman 
dengan cinta yang berdasarkan syahwat. 
manakala seorang muslim menerima perkataan ini maka ia hendahnya menjawab Ahabbakallah lima ahbabtani iyyahu 
(semoga Allah mencintai anda disebabkan 
kecintaan anda kepadaku kepada Dia). 
Ungkapan mesra seperti ini akan menambah eratnya tali ikatan ukkuwah 
diantara sesama muslim...
Namun....bukan berati ungkapan "uhibbuka fillah/ uhibbuki fillah" di jadikan ajang bercinta karena nafsu ya...?!

Namun cinta karena allah yang sesungguhnya...!!

Selasa, 12 Juni 2012

::KISAH PEMUDA YANG DIDOAKAN PENGEMIS::


Seorang tabi’in, Asy-Sibli, mengisahkan, “Suatu hari aku keluar dari rumahku menuju suatu padang pasir. Saat aku tiba di suatu jalan, aku melihat seorang pemuda yang usianya masih terlalu muda, tubuhnya kurus, rambutnya kusut tubuhnya dekil, dan pakaiannya lusuh. Aku lihat ia duduk di dekat sebuah pekuburan. sesekali ia memandang ke atas dan sesekali ke bawah, sedangkan kedua bibirnya bergerak dan kedua matanya meneteskan air mata. Aku lihat ia sedang tenggelam dalam doanya, dzikirnya, dan istighfarnya.

Melihat kedaan pemuda tersebut, hatiku tertarik ingin menyapanya. 
Maka aku menuju ke tempatnya. 
Ketika melihat kedatanganku, ia malah berdiri dan melarikan diri secepatnya dariku, sehingga hatiku semakin ingin mengenalnya. 
Aku pun mengejarnya, tapi aku tak dapat menghentikannya.

Aku katakan kepadanya, ‘Wahai kekasih Allah, berhentilah sejenak untukku!.”
“Demi Allah, aku tidak dapat melakukannya,” jawab pemuda itu.
Kataku, ”Demi kemuliaan Allah, ber­hentilah sejenak untukku.”

Tetapi ia tetap meneruskan larinya dan ia berkata, ”Aku tidak dapat melakukannya.”
Kataku, ”Jika engkau memang benar (dengan sikapmu ini), perlihatkan kepadaku ihwal kesungguhanmu kepada Allah.”

Dalam keadaan tetap berlari dariku, ia berteriak dengan suara yang keras, ‘Ya Allah….”. Kemudian ia tersungkur.
Dan ketika aku mendekati tubuhnya, ia telah meninggal dunia. Aku bingung dan heran karena kesungguhannya kepada Allah. 

Maka aku berkata dalam diriku, ”Beginilah cara Allah memuliakan sebagian hamba-Nya dengan rahmat-Nya, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah, Yang Maha tinggi dan Maha agung.”

Kemudian aku meninggalkan jenazahnya sejenak. Aku menuju perkampungan terdekat untuk mengadakan persiapan bagi jenazah pemuda itu.

Ketika sampai kembali di tempat itu, aku tidak mendapatkan lagi mayatnya. Aku mencarinya ke sana-sini, tapi tetap saja aku tak berhasil mendapatkannya.
Dalam keadaan seperti itu, aku ber­kata dalam hatiku, ”Mengapa ada orang lain yang mendahuluiku untuk merawatnya?”
Kemudian aku mendengar suara, ”Wahai Syibli, sesungguhnya engkau telah cukup memperhatikan pemuda itu, dan tidak seorang pun yang menangani jenazahnya kecuali para malaikat. Ka­rena itu, tingkatkan ibadahmu kepada Tuhanmu dan banyaklah bersedekah. Karena pemuda ini tidak mencapai kedudukan seperti ini kecuali dengan sedekahnya pada suatu hari.”
Kataku, ”Demi Allah, beri tahukan kepadaku perihal sedekahnya pada suatu hari yang dimaksud itu.”
Suara itu meneruskan, ”Wahai Syibli, pemuda ini dulunya adalah seorang yang suka berbuat maksiat dan ia pernah berzina. Sampai pada suatu hari ia diperlihatkan Allah pada suatu mimpi yang amat menakutkan baginya.

la bermimpi melihat seekor ular besar yang melilit tubuhnya. Dari mulut ular itu terpancar api yang membakar tubuh­nya hingga hangus. 
Maka ia terbangun dalam keadaan ketakutan. 

Sejak saat itu ia menyibukkan diri dalam beribadah. Sejak saat itu hingga hari ini ia telah ber­ibadah selama dua belas tahun. Selama itu ia selalu dalam keadaan merendahkan diri dan khusyu’ kepada Allah SWT.

Kemarin, seorang pengemis meminta makan untuk hari itu kepadanya. Karena tak punya makanan, maka ia melepas pakaian yang melekat pada tubuhnya dan memberikannya kepada pengemis itu. 

Karena gembira, penge­mis itu mendo’akan kebaikan dan memohonkan ampun bagi pemu­da itu karena bergembira dari se­dekah pemuda itu, sehingga Allah mengabulkan doa pengemis.”

Kisah ini tidak bermaksud megajarkan pembaca untuk jadi pengemis. Akan tetapi kita diharapkan dapat mengambil hikmahnya agar dapat menyadari akan keutamaan sedekah.

Minggu, 10 Juni 2012

::WASIAT TERAKHIR RASULULLAH::



(beberapa hari sebelum beliau wafat)

Pada suatu hari di Madinah, para sahabat mendengar suara Bilal memanggil mereka untuk berkumpul di mesjid. Kecemasan tampak pada wajah2 mereka. Mereka tahu sudah beberapa hari ini Nabi yang mulia jatuh sakit. Segera setelah mereka berada di mesjid, nabi keluar dari hujjrahnya, yaitu ruang kecil tempat tinggal Nabi disebelah masjid. Beliau dipapah Fadel & Ali, wajahnya pucat dan dahinya dibalut kain. Perlahan2 beliau menuju mimbar..

Beberapa orang sahabat sudah mulai terisak, sebagian besar menahan air mata. Nabi lalu naik ke mimbar. Dia berkata, “Para hadirin, mendekatlah, berilah tempat kepada yang berada dibelakang kalian…!”. Orang2 merapat, mereka melihat kebelakang, tapi tidak ada orang lagi. Nabi masih menyuruh agar orang2 untuk merapatkan tubuhnya.
Sampai seorang sahabat bertanya, ” Ya Rasulullah, untuk siapa kami memberi tempat?”
Lalu Nabi berkata, “Untuk para malaikat.”
Rupanya para malaikatpun hadir disitu untuk mendengar wejangan2 dari Rasulullah yang terakhir.



Kata Nabi, “Alhamdulillah, kita memuji Dia, dan memohon pertolonganNya. Kita beriman dan berserah diri kepada-Nya. Kita bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah Yang Esa, tidak ada sekutu bagiNya. Kita bersaksi juga, bahwa Muhammad SAW adalah hamba dan rasul-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejeleken diri kita dan keburukan amal kita. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, tidak seorangpun dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, tidak seorangpun dapat memberinya petunjuk.”
Wahai manusia…..!

Siapapun diantara kalian, yang menemui Allah dengan membawa kesaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah.. kesaksian yang ikhlas, yang tidak dicampuri dengan selain itu, pastilah ia akan masuk surga.

Pada waktu itu, Sayidina Ali bertanya, “Ya Rasulullah, demi ayah dan ibuku, apa yang dimaksud dengan mengucapkan syahadat tanpa dicemari oleh yang lain itu? Jelaskanlah pada kami, supaya kami memahaminya. ”

Lalu Nabi bersabda, “Yang mencemari akidah itu, adalah kerakusan pada dunia. Mengumpulkan dunia bukan secara halal dan bersenang2 dengan harta yang haram. Berbicara dengan perkataan orang2 baik, tetapi berperilaku seperti perilaku para tiran. Barangsiapa menghadap Allah dengan tidak membawa hal2 tersebut sedikitpun, dan mengucapkan Laailaaha illallah..baginya surga.”

Kemudian Rasulullah melanjutkan, “Barangsiapa, mengambil dunia dan meninggalkan akhirat, baginya neraka.
Siapa saja yang membantu permusuhan, para penindas, ataupun orang yang membantu untuk melakukan penindasan, maka malaikat pencabut nyawa akan datang membawa berita kepadanya, bahwa dia akan mendapat laknat Allah dan tempatnya kelak kekal di neraka. Siapa yang melangkahkan kaki kepada penguasa yang zalim, untuk memenuhi kebutuhannya, dia akan menyertai penguasa itu di neraka.

Siapa yang menunjuki jalan kepada penguasa untuk melakukan penindasan , dia akan dihimpun bersama Haman (penasehat firaun), ia, Haman dan penguasa yang zalim itu akan mendapat siksa yang paling berat di neraka. ”

Barangsiapa memuliakan pemilik dunia, dan mencintainya karena ia mengharapkan dunianya, Allah murka kepadanya. Ia akan ditempatkan di neraka paling bawah bersama Qarun.

Barangsiapa membangun rumah hanya untuk kemegahan dan kesombongan, maka pada hari kiamat ia akan dibawa ke tujuh bumi dan kemudian dibelenggu dengan api yang menyala di lehernya dan dilemparkan ke neraka.

Para sahabat bertanya, “Ya Rasul Allah, apa artinya membangun rumah untuk kemegahan dan kesombongan itu?”

Jawab Rasulullah, “Membangun rumah lebih dari keperluannya, atau membangun untuk menyombongkan dirinya, diatas orang lain.”

Barangsiapa yang membayar upah buruhnya secara zalim, tidak membayarnya dengan upah yang layak, Allah akan menghapuskan seluruh amal sholehnya dan ia tidak akan mencium bau surga, padahal bau surga itu tercium dari jarak 500 tahun.

Barangsiapa menikahi seorang wanita dengan harta yang halal tetapi karena menginginkan kemegahan dan kesombongan, Allah tidak akan memberinya bekal kecuali kehinaan dan kerendahan sesuai dengan kadar kesenangannya, Allah akan menyuruhnya berdiri di
tepian jahannam, dan kemudian jatuh ke dalamnya sejauh 70 kharif (ukuran panjang).

Siapa yang merampas mahar istrinya, atau tidak membayarnya disisi Allah, ia menjadi penzina.. Allah akan berkata kepadanya di hari kiamat, aku menikahkan kamu kepada hambaKu dengan perjanjianKu, engkau tidak memenuhi perjanjian itu. Allah akan menagih hak istrinya. Dan bila ia tidak sanggup membayar dengan seluruh pahalanya, ia akan dilemparkan di api neraka.

Siapa yang menyakiti tetangga tanpa hak, Allah akan melarang mencium bau surga dan menempatkannya di neraka. Ketahuilah Allah akan meminta pertanggungjawaban atas hak tetanggamu. Barangsiapa yang melalaikan hak tetangganya, dia bukan golongan kami.
Siapa yang menghianati tetangganya dengan sejengkal tanah saja, ia akan dibelenggu api sampai ke tujuh kepala bumi sehingga ia dimasukkan ke neraka.

Barangsiapa menahan kebutuhan pokok dari tetangganya ketika memerlukannya, Allah akan menahan anugerahnya pada hari kiamat. Allah akan menyuruh ia meminta bantuan pada dirinya sendiri. Barangsiapa meminta bantuan hanya pada dirinya saja, ia binasa. Allah tidak akan menerima alasan bagi orang itu.

Siapa saja yang merendahkan orang miskin muslim karena kemiskinannya, dan memandang rendah kepadanya, ia sudah memandang rendah hak Allah, ia akan terus menerus berada dalam kemurkaan Allah sampai si miskin itu ridho kepadanya.

Barangsiapa yang mampu berbuat maksiat dengan seorang perempuan, tetapi kemudian meninggalkannya, karena takut kepada Allah, Allah mengharamkan neraka baginya dan memberinya kedamaian pada hari yang sangat mengerikan. Dan ia dimasukkan ke surga.
Tetapi bila ia melakukan maksiat dengan perempuan itu, Allah mengharamkan surga baginya, dan memasukkannya kedalam neraka.

Barangsiapa memperoleh harta secara haram, Allah tidak akan menerima sedekah, haji & umrahnya. Allah menuliskan dosa untuk setiap pahala dari perbuatannya itu, dan perbekalan yang tinggal baginya setelah itu mengantarkannya ke neraka.

Barangsiapa meninggalkan harta yang haram, padahal ia sanggup memperolehnya karena takut kepada Allah, dia akan selalu dalam kecintaan Allah dan kasihNya. Sehingga ia diperintahkan untuk memasuki ke surga.

Barangsiapa yang menipu orang islam dengan jual belinya, ia bukan umatKu. Pada hari kiamat, ia akan digabungkan bersama orang2 yahudi. Ketahuilah siapa yang menipu orang, ia bukan muslim.

Barangsiapa mempunyai istri, kemudian istrinya menyakiti suaminya, Allah tidak akan menerima sholat perempuan itu dan segala kebaikan yang dilakukannya. Sampai ia membantu dan menyenangkan suaminya kembali, walaupun ia berpuasa terus menerus, & sholat malam, membebaskan budak & menginfakkan hartanya di jalan Allah.

Begitupula suami. Akan mendapat dosa dan siksa yang sama, jika ia menyakiti dan berbuat zalim kepada istrinya.
Barangsiapa tidur dan dalam hatinya ada niat untuk menghianati orang Islam, ia tidur dalam kemurkaan Allah. Ia memasuki waktu subuh juga dengan kemurkaan Allah. Kecuali bila ia bertobat. Jika ia mati dalam keadaan itu, maka ia mati bukan dalam keadaan Islam.

Ketahuilah, siapa yang menghianati Kami, ia bukan golongan Kami.
Siapa yang menghianati Kami, ia bukan golongan Kami.
Siapa yang menghianati Kami, ia bukan golongan Kami.

Barangsiapa menggunjingkan saudaranya yang muslim, batallah puasanya, dan rusaklah wudhunya, bila ia mati dalam keadaan itu, ia mati dengan menghalalkan apa yang diharamkan Allah.

Barangsiapa berjalan untuk mengadu domba orang, Allah akan memenuhi kuburannya dengan api, yang membakarnya sampai hari kiamat. Barangsiapa yang mengendalikan amarahnya, dan memaafkan saudaranya yang muslim, Allah akan memberikan padanya pahala syahid.

Ketahuilah..barangsiapa mendengar kekejian, kemudian menyebarkannya, maka ia seperti orang yang melakukannya.
Barangsiapa mendengar kebajikan, kemudian ia menyebarkannya, ia mendapat pahala seperti orang yang melakukannya.

Barangsiapa menjadi imam bagi suatu kaum dengan seijin mereka, serta merekapun ridho kepadanya, kemudian, ia menyederhanakan, meringankan, bacaan ruku’, sujud, duduk dan berdirinya , maka ia memperoleh pahala seperti mereka.

Dan barangsiapa menjadi imam pada suatu kaum, tetapi tidak meringankan bacaannya, ruku’nya, sujudnya, duduknya dan berdirinya, maka Allah menolak sholatnya. Dan sholatnya tidak melebihi tenggorokannya.

Kedudukannya di hadapan Allah seperti kedudukan penguasa yang zalim yang tiran yang tidak mensejahterakan rakyatnya serta tidak mengindahkan perintah allah.
Sayyidina Ali berdiri dan bertanya, “Ya Rasul Allah, demi ayah & ibuku, apa kedudukan penguasa zalim dan tiran yang tidak menyejahterakan rakyatnya di hadapan Allah?”

Lalu Nabi bersabda, ” Ia termasuk yang keempat diantara orang yang paling berat siksanya pada hari kiamat. Yaitu iblis, firaun, pembunuh dan penguasa tiran.”
Barangsiapa berusaha mendamaikan dua orang yang bermusuhan, para malaikat akan membacakan doa baginya,sampai ia menyelesaikan usahanya itu dan ia diberi pahala malam qadar.

Dan barangsiapa berusaha memutuskan hubungan persaudaraan diantara dua orang, ia mendapat dosa sebesar pahala yang diterima oleh orang yang mendamaikan tadi.
Ditetapkan laknat Allah baginya, ia masuk ke neraka jahannam dengan siksa yang berlipat ganda.

Barangsiapa berusaha membela dan memberi manfaat kepada saudaranya, maka baginya pahala orang mujahiid di jalan Allah.
Barangsiapa berjalan menyebarkan aib saudaranya sesama muslim, dan mengungkapkan hal yang mempermalukannya, maka langkah pertamanya adalah langkah ke neraka dan Allah akan mempermalukan ia di hadapan seluruh makhluk.

Barangsiapa membimbing orang buta sampai ke masjid atau kerumahnya untuk memenuhi keperluannya, Allah akan memberikan pahala utk setiap langkahnya. Yang besarnya sama dengan membebaskan budak. Malaikat tidak henti2nya berdoa baginya. Sampai ia berpisah dengan orang buta itu.

Dan barangsiapa mencukupi keperluan orang buta sampai ia memenuhinya, Allah membebaskannya dari 2 hal, neraka dan kemunafikan. Allah akan memenuhi 70.000 keperluannya di dunia. Ia tidak henti2nya berada dalam naungan rahmat Allah sampai ia kembali.

Barangsiapa berusaha memenuhi keperluan orang sakit, ia keluar dari dosa2nya, seperti ketika ia dilahirkan dari perut ibunya.
Seorang anshar bertanya, “Wahai rasulullah, bagaimana bila yang sakit itu keluarganya sendiri?”

Nabi menjawab, “Manusia yang paling besar pahalanya adalah yang berusaha memenuhi keperluan keluarganya.
Barangsiapa melalaikan keluarganya, memutuskan kasih sayangnya, Allah akan mengharamkan balasan yang baik baginya pada hari ketika ia membalas orang2 baik, Allah akan melalaikannya.

Barangsiapa yang Allah lalaikan pada hari akhirat, ia berada diantara orang2 yang celaka. sehingga ia berusaha mencari jalan keluar, tetapi tidak akan pernah bisa keluar.
Waktu itu rasulullah mengakhiri khutbahnya dengan berkata, “Wahai manusia, sudah tua usiaku, sudah rapuh tulangku, sudah lemah tubuhku, sudah siap diriku, sudah besar kerinduanku untuk menemui Tuhanku. Saya kira inilah hari terakhir antara aku dan kalian. Selama aku hidup, kalian menyaksikanku. Sesudah aku mati, Allah akan menjadi khalifahku bagi setiap mukmin laki2 dan perempuan.”

Pertemuan nabi dengan sahabat2nya hari itu berakhir dengan tangisan. Beberapa hari setelah itu, Nabi berwasiat kepada Ali bin abi Thalib Untuk memandikan dan mengkafani bila ia telah berangkat menemui Sahabat Agung.

Nabi memanggil Bilal untuk sekali lagi mengumpulkan orang di mesjid. Sambil bersandar pada tongkatnya, dan masih dikompres dengan sorbannya, Nabi bersabda, “Wahai sahabat2ku, menurut kalian, nabi macam apakah aku ini?.

Bukankah aku berjuang bersama kalian, bukankah pernah sobek bahuku, bukankah dahiku pernah berdebu, bukankah pernah darah mengalir di wajahku dan membasahi janggutku, bukankah telah kutanggung duka dan derita menghadapi kaumku yang bodoh, bukankah pernah kuikatkan batu di perutku untuk menahan rasa lapar.

Para sahabat serentak menjawab, “Benar wahai rasul Allah. Anda telah memikul semuanya dengan sabar dan tabah..anda telah menolak kemungkaran, sehingga anda menghadapi cobaan2 karena Allah. semoga Allah membalas kebaikan anda dengan pahala yang paling utama.”

Tidak lama setelah peristiwa itu, hari senin, 12 Rabiul Awal 11 H, manusia yang mulia itu menembuskan nafas terakhir. Madinah berkabung, mereka menangisi kepergian Nabi.