Entri Populer

Jumat, 13 Juli 2012

KESEMPURNAAN CINTA ADALAH MENGHARGAI KETIDAK SEMPURNAAN




Tidak ada yang sempurna dalam kehidupan ini, apalagi jika kita setiap kali mempermasalahkan ketidaksempurnaan seseorang atau sesuatu. Bukankah ketidaksempurnaan itulah yang
dapat memberikan kita berbagai pelajaran tentang kehidupan ini ...??

Sebuah ketidaksempurnaan, mengajarkan kita banyak hal ...
• bagaimana menjadi SABAR.
• bagaimana menjadi RENDAH HATI.
• bagaimana menjadi TEGAS.
• bagaimana menjadi MURAH HATI.

bahkan, ketidaksempurnaan juga mengajarkan kita melalui berbagai emosi negatif
yang mungkin kita rasakan ...

• saat kita MARAH.
• saat kita SEDIH.
• saat kita KECEWA

Kita belajar dari segala sesuatunya dan semua itu adalah karena ketidaksempurnaan.
Jadi mengapa kita harus menyalahkan dan mempermasalahkan sebuah ketidaksempurnaan...?

Tak ada satu hal atau satu orangpun yang sempurna di dunia ini.
Dan apakah kita tahu ...??

Kita akan merasakan kesempurnaan dalam hidup kita, saat kita benar-benar menghargai
adanya ketidaksempurnaan itu ...

Demikian halnya dalam cinta ...
Tak ada cinta yang sempurna ...

Karena kesempurnaan cinta itu adalah saat kita mencintai ketidaksempurnaan,
dan saat kita menyadari bahwa tak ada yang sempurna.

Cinta di hati.
Bagaimana mungkin kita mengukurnya...
Karena cinta bukanlah untuk diukur, dinilai atau dibuktikan...

Hanya untuk dinyatakan dan dirasakan.
Jika cinta itu berasal dari hati, maka hati pulalah yang mampu merasakannya.

Kamis, 12 Juli 2012

AKU TIDAK TAKUT NERAKA..!!!!


Kisah obrolan antara orang gila yang alim dan Abid (ahli ibadah) yang shalih.

Di suatu negeri, hiduplah seorang abid yang selalu bermunajat kepada Allah Ta’ala di setiap hari-harinya. Apabila dia ingat atas dosa-dosanya yang telah lalu, tak jarang dia menangis tersedu-sedu sehingga air matanya membasahi hampir sebagian baju yang dikenakannya.

Maklum saja, abid tersebut dulunya adalah seorang yang pernah hidup di lembah hitam yang sudah barang tentu, beraneka macam bentuk kemaksiatan sudah pernah dicicipinya.




Suatu hari, ketika abid tersebut sedang asyik dalam munajatnya dan menangis tersedu-sedu sehingga air matanya membasahi kedua pahanya, lewatlah orang gila melintasi tempat di dekat ahli ibadah tersebut bermunajat.

Dalam munajatnya, abid tersebut berkata:
“Wahai Tuhanku…janganlah masukkan aku ke neraka”.

“Belas kasihanilah aku…bersikap lembutlah kepadaku wahai Tuhanku”.
“Wahai Dzat yang Maha Rahman dan Rahim…jangan siksa aku dengan neraka-Mu”.

“Aku ini sangat lemah wahai Tuhanku…aku pasti tidak akan kuat bertempat di neraka-Mu…oleh karena itu, kasihanilah aku wahai Tuhanku”.

“Wahai Tuhanku…Kulitku ini sangat lembut, pasti tidak akan kuat menahan api neraka-Mu. Oleh karena itu wahai Tuhanku…Kasihanilah aku”.

“Wahai Tuhanku…tulangku sangat rapuh, tidak akan kuat menahan siksaan neraka-Mu, oleh karena itu wahai Tuhanku…Kasihanilah aku”.

Mendengar ucapan abid yang sedang bermunajat tersebut, orang gila yang sedang melintas tadi tiba-tiba tertawa terbahak-bahak dengan sangat keras sekali.

Ha ha ha ha ha  ha…!!

Karena merasa dilecehkan, sambil melotot abid tadi berkata:
“Wahai orang gila…apa yang sedang kamu tertawakan??!!”.

Dengan terkekeh orang gila tadi menjawab:
“Ucapan dalam munajatmu tadi sungguh membuatku tergelitik untuk tertawa”.

Abid menimpali:
“Ucapanku yang mana yang membuatmu tertawa wahai orang gila??!”.

Orang gila tadi menjawab:
“Engkau menangis karena takut dengan neraka…itulah yang membuatku tertawa terbahak-bahak!!”

Abid berkata:
“Apakah engkau tidak takut dengan neraka wahai orang gila??!”.

Sambil kembali tertawa terbahak-bahak orang gila tersebut menjawab:
“Ha ha ha ha ha….Sedikit pun aku tidak takut dengan yang namanya neraka”.

Abid berkata:
“oowwhh….benar, engkau memang benar-benar gila!!”.

Sambil sedikit menahan tawa, orang gila tadi menjawab:
“Kenapa engkau takut dengan neraka wahai abid, sedangkan engkau memiiliki Tuhan Yang Maha  Rahman dan Rahim??!, yang rahmat-Nya lebih luas dari apapun juga!!”.

Dengan agak takjub dengan ucapan orang gila tadi, abid tersebut menjawab:
“Sesungguhnya aku memiliki dosa yang apabila Allah Ta’ala meminta pertanggung jawaban kepadaku dengan keadilan-Nya, niscaya Allah akan memasukkan aku ke neraka”.

“Oleh karena itu aku menangis wahai orang gila…itu semua aku lakukan agar Allah Ta’ala berbelas kasihan kepadaku, mengampuni dosa-dosaku, tidak meminta pertanggung jawaban kepadaku dengan keadilan-Nya, tetapi dengan keutamaan dan kelembutan-Nya, sehingga Dia tidak memasukkan aku ke dalam neraka-Nya”.

Ha ha ha ha ha ha….!!

Mendengar jawaban abid yang sangat memilukan dan terkesan memelas tersebut, orang gila tadi kembali tertawa terbahak-bahak dengan suara yang lebih keras lagi.

Dengan kesal abid tersebut berkata:
“Apa yang engkau tertawakan wahai orang gila??!”.

Masih dalam kedaan terkekeh, orang gila tadi menjawab:
“Wahai abid…engkau memiliki Tuhan Yang Maha Adil yang tidak akan pernah berkhianat, tetapi engkau malah takut kepada-Nya”.

“Engkau memiliki Tuhan yang Maha Rahman, Maha Rahim, Maha menerima taubat…tetapi engkau malah takut dengan nerakanya”.

Sambil agak bingung dengan pernyataan orang gila tadi, abid tersebut berkata:
“Apakah engkau tidak takut pada Allah Ta’ala wahai orang gila??!”

Dengan sedikit tertawa orang gila tersebut menjawab:
“Iya…aku takut kepada Allah Ta’ala, tetapi takutku kepada-Nya bukan karena neraka-Nya”.
Mendengar jawaban orang gila tersebut, abid tadi bingung dan tidak habis pikir, kemudian bertanya:

“Jika engkau tidak takut dengan neraka-Nya, lalu apa yang membuatmu takut kepada Allah Ta’ala??!!”.

Tiba-tiba dengan mimik muka yang cukup serius, orang gila tadi menjawab:
“Yang aku takutkan adalah ketika nanti aku bertemu dengan Tuhanku dan Dia menanyaiku…wahai hamba-Ku, kenapa engkau bermaksiat kepada-Ku??!”.

“Jika saja aku ditakdirkan menjadi calon penghuni neraka, aku sangat berharap supaya aku dimasukkan neraka tanpa dihadapkan kepada-Nya dan ditanyai terlebih dahulu”.

“Api neraka lebih ringan menurutku dari pada harus menjwab pertanyaan Allah Ta’ala…aku pasti tidak akan mampu memandang-Nya dengan pandangan seorang pengkhianat ini, serta menjawab pertanyaan-Nya dengan mulut seorang penipu ini”.

“Jika saja dengan dimasukkannya aku ke neraka, itu semua membuat kekasihku ridlo kepadaku…maka dengan senang hati aku menerimanya”.

Kemudian dengan suara pelan dan masih dengan mimik muka serius, orang gila tadi kembali berkata:

“Wahai abid…maukah kamu aku beri tahu sebuah rahasia, tetapi jangan engkau bocorkan rahasia ini kepada siapapun??!”.

Dengan mimik muka bingung, abid tersebut menjawab:
“Apa rahasia tersebut wahai orang gila??!”.

Dengan agak berbisik orang gila tersebut menjawab:
“Taukah kamu wahai abid, bahwasanya Tuhanku tidak akan pernah memasukkan aku ke neraka…taukah kamu kenapaa!!”

Dengan terkejut dan bingung  abid tadi berkata:
“Loh….kok bisa begitu wahai orang gila??!”.

Dengan tenang dan tatapan mata menerawang jauh, orang gila tersebut menjawab:

“Itu semua disebabkan karena aku beribadah kepada-Nya dengan dasar cinta dan rindu, sedangkan engkau wahai abid, engkau beribadah kepada-Nya dengan dasar takut serta tamak akan surga-Nya”.

“Persangkaanku kepada-Nya lebih baik dari pada persangkaanmu…harapanku kepada-Nya lebih baik dari pada harapanmu”.

“Oleh karena itu wahai abid, perbaikilah harapanmu kepada Tuhanmu dengan sebaik-baik harapan”.

“Taukah engakau wahai abid…dulu ketika Musa alaihissalam melihat api di gunung Thursina lalu mendatanginya dengan harapan mendapat sedikit kehangatan dari api tersebut, ia kembali menjadi seorang Nabi, dan aku…aku pergi menuju Tuhanku dengan membawa cinta dan rindu untuk melihat keindahan-Nya, maka aku kembali sebagai orang gila”.

Setelah berkata demikian, tiba-tiba orang gila tersebut kembali terawa terbahak-bahak lalu pergi meninggalkan abid begitu saja.

Dan dengan dihinggapi rasa takjub yang luar biasa atas ucapan orang gila tadi, sambil kembali menangis abid tersebut berkata:

“Subhanallah…orang gila tadi adalah bukan orang sembarangan, dia adalah paling cerdas-cerdasnya orang yang pernah aku temui sepanjang hidupku”.

*Walaupun tidak jelas dari mana sumber kisah ini, namun tetap saya tulis. Yaaa….meskipun begitu, semoga tetap ada manfaat meski sedikit dari tulisan ini. Juga, semoga bisa menjadi ibaroh serta bahan renungan bagi kita semua…Aamiin

اللهم صل وسلم على سيدنا وحبيبنا محمد وعلى اله واصحابه ومن تبعهم بإحسان الى يوم الدين

Selasa, 10 Juli 2012

MENCINTAI KARENA ALLAH DENGAN SESUNGGUHNYA



Dalam hadist yang diriwayatkan dari Anas bin Malik dikisahkan.

Ada seorang sahabat yang berdiri disamping Rosulullah
Shollalahu Alaihi Wa Sallam, 
lalu seorang sahabat lain lewat dihadapan keduanya. 
Orang yang berada disamping Rosulullah itu tiba-tiba berkata,   
"Ya Rasulullah, aku mencintai Dia.“
"Apakah  engkau telah memberitahukan kepadanya?“, tanya Nabi.
"belum" jawab orang itu.
Rosulullah berkata, "Nah, kabarkanlah kepadanya!“.
Kemudian orang itu segera berkata kepada sahabatnya. 
"Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah.“
Dengan serta merta orang itu menjawab, 
'Semoga Allah mencintaimu karena engkau mencintaiku karena-Nya“. 
(HR. Abu dawud)

Rasulullah sering menganjurkan para sahabat untuk menyatakan 
rasa kasih sayang terhadap sahabat lainnya. 
Suatu ketika Beliau bersabda, 
"apabila seorang muslim mencintai saudaranya (karena Allah) 
hendaklah dia memberitahukan (kepadanya)“ 
(HR. Abu dawud dan Tarmidzi)

Membicarakan cinta sangatlah luas maknanya.  
Cinta itu artinya suka atau senang. 
Orang betawi bilang “demen”. Mengapa seseorang itu kita senangi? 
Karena dia pasti berkenan di hati kita. Karena hati merasa terkontak. 
Jadi standard cinta itu ada di hati. Cinta bersumber dari ketakjuban. 
Jika ketakjuban ini berlandaskan karena Allah alangkah indah rasanya.

Sayang kebanyakan kita telah salah persepsi dengan cinta, 
dimana makna cinta telah bergeser kepada birahi atau syahwat. 
Bila kata “CINTA” diungkapkan, persepsi kita langsung menggambarkan 
hubungan antara laki-laki dan perempuan yang belum menikah. 
padahal tidak semua cinta berorientasi syahwat, 
bahkan ada cinta yang merupakan suatu yang syar’i, suci, 
dan imani yaitu mencintai orang lain karena Allah dan iman kepada-Nya.

Ajaran islam menghendaki agar cinta antara sesama manusia 
dapat berlangsung karena mencintai dan mengimani Allah. 
 Standardises cinta ditentukan oleh iman dan amal sholeh dari orang yang dicintainya itu. 
Semakin tinggi keimanan seseorang, semakin untuk dicintai. 
Untuk itu, Allah telah mewujudkan bahwa iman itu sebagai sesuatu yang indah 
di hati orang-orang mukmin.

Rasulullah Shallalahu Alaihi Wa Salam bersabda,  
“Janganlah kalian menganggap sepele dari kebaikan sedikitpun, 
Walaupun hanya dengan menyapa saudaramu dengan muka manis” 
(HR. Muslim)

“Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. 
Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu 'cinta' kepada keimanan 
dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu 
serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. 
Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus, 
sebagai karunia dan nikmat dari Allah. 
Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Al-hujarat :7-8)

Memiliki rasa cinta kepada iman dan orang-orang mu’min 
merupakan rahmat dan karunia Allah yang besar. 
Ini merupakan kasih sayang Allah kepada setiap insan Mu’min. 
Rasulullah bersabda, 
Tiang yang paling kokoh dan iman adalah mencintai karena Allah 
dan membenci karena Allah" 
(HR. Muslim)

Karena itulah mencintai sesama muslim merupakan salah satu 
diantara parameter keimanan seseorang. 
Untuk memperkokoh parameter cinta karena iman ini, 
para sahabat nabi sering berdoa dengan ungkapan.  
“Ya Allah jadikanlah kami mencintai iman, 
dan jadikanlah iman itu indah didalam hati kami. 
Dan bencikanlah kami kepada kekafiran kefasikan dan kedurhakaan. 
Dan jadikanlah kami tergolong orang-orang yang benar".

Berlandaskan cinta kepada iman inilah setiap muslim wajib 
mencintai saudaranya sesama mu’min. 
Rasulullah Shollalahu Alaihi wasalam bersabda  
“Tidak beriman salah seorang kamu sehingga mencintai saudaranya 
(sesama muslim) seperti mencintai dirinya sediri." 
(HR. Muslim)

Iman kepada Allah dan Rasul serta cinta kepada sesama muslim tak mungkin terpisah, 
karena seluruhnya merupakan satu kesatuan. 
Dengan landasan cinta inilah persaudaraan (ukkuwah) itu terbentuk diantara sesama muslim.

Kenapa seseorang bisa jatuh cinta ?

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, 
kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) 
mereka rasa kasih sayang."
(Al Quran Al Karim Surah Maryam ayat 96)

"Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. 
Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu 
dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat". 
 (Al-Hujarat : 10)

Kecintaan seorang muslim terhadap muslim lainnya 
tentu bukan disebabkan nafsu syahwat yang memuncak dalam perasaannya, 
tetapi karena kesadaran terhadap ukhuwah dan peningkatan iman kepada Allah dan Rasul-Nya. Kecintaan terhadap akhlaq yang mulia atau ketaatan dan ketakwaannya kepada Allah. 
Karena itu, ungkapan cinta mereka bukan merupakan pernyataan gombal 
diantara mereka seperti halnya ungkapan-ungkapan cinta oleh orang-orang sekarang yang mengikuti dari golongan non muslim yang hanya disampaikan setiap hari valentine saja Dan hari hari tertentu lainnya.. 
Tapi haruslah mengungkapkannya seperti yang disunnahkan oleh Rasululah.

Islam membimbing kita agar mengutarakan perasaan cinta ini dengan terus terang yaitu uhibbuka fillah atau uhibbuki fillah. 
Ungkapan ini membedakan antara cinta yang dilandasi iman 
dengan cinta yang berdasarkan syahwat. 
manakala seorang muslim menerima perkataan ini maka ia hendahnya menjawab Ahabbakallah lima ahbabtani iyyahu 
(semoga Allah mencintai anda disebabkan 
kecintaan anda kepadaku kepada Dia). 
Ungkapan mesra seperti ini akan menambah eratnya tali ikatan ukkuwah 
diantara sesama muslim...
Namun....bukan berati ungkapan "uhibbuka fillah/ uhibbuki fillah" di jadikan ajang bercinta karena nafsu ya...?!

Namun cinta karena allah yang sesungguhnya...!!

Selasa, 12 Juni 2012

::KISAH PEMUDA YANG DIDOAKAN PENGEMIS::


Seorang tabi’in, Asy-Sibli, mengisahkan, “Suatu hari aku keluar dari rumahku menuju suatu padang pasir. Saat aku tiba di suatu jalan, aku melihat seorang pemuda yang usianya masih terlalu muda, tubuhnya kurus, rambutnya kusut tubuhnya dekil, dan pakaiannya lusuh. Aku lihat ia duduk di dekat sebuah pekuburan. sesekali ia memandang ke atas dan sesekali ke bawah, sedangkan kedua bibirnya bergerak dan kedua matanya meneteskan air mata. Aku lihat ia sedang tenggelam dalam doanya, dzikirnya, dan istighfarnya.

Melihat kedaan pemuda tersebut, hatiku tertarik ingin menyapanya. 
Maka aku menuju ke tempatnya. 
Ketika melihat kedatanganku, ia malah berdiri dan melarikan diri secepatnya dariku, sehingga hatiku semakin ingin mengenalnya. 
Aku pun mengejarnya, tapi aku tak dapat menghentikannya.

Aku katakan kepadanya, ‘Wahai kekasih Allah, berhentilah sejenak untukku!.”
“Demi Allah, aku tidak dapat melakukannya,” jawab pemuda itu.
Kataku, ”Demi kemuliaan Allah, ber­hentilah sejenak untukku.”

Tetapi ia tetap meneruskan larinya dan ia berkata, ”Aku tidak dapat melakukannya.”
Kataku, ”Jika engkau memang benar (dengan sikapmu ini), perlihatkan kepadaku ihwal kesungguhanmu kepada Allah.”

Dalam keadaan tetap berlari dariku, ia berteriak dengan suara yang keras, ‘Ya Allah….”. Kemudian ia tersungkur.
Dan ketika aku mendekati tubuhnya, ia telah meninggal dunia. Aku bingung dan heran karena kesungguhannya kepada Allah. 

Maka aku berkata dalam diriku, ”Beginilah cara Allah memuliakan sebagian hamba-Nya dengan rahmat-Nya, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah, Yang Maha tinggi dan Maha agung.”

Kemudian aku meninggalkan jenazahnya sejenak. Aku menuju perkampungan terdekat untuk mengadakan persiapan bagi jenazah pemuda itu.

Ketika sampai kembali di tempat itu, aku tidak mendapatkan lagi mayatnya. Aku mencarinya ke sana-sini, tapi tetap saja aku tak berhasil mendapatkannya.
Dalam keadaan seperti itu, aku ber­kata dalam hatiku, ”Mengapa ada orang lain yang mendahuluiku untuk merawatnya?”
Kemudian aku mendengar suara, ”Wahai Syibli, sesungguhnya engkau telah cukup memperhatikan pemuda itu, dan tidak seorang pun yang menangani jenazahnya kecuali para malaikat. Ka­rena itu, tingkatkan ibadahmu kepada Tuhanmu dan banyaklah bersedekah. Karena pemuda ini tidak mencapai kedudukan seperti ini kecuali dengan sedekahnya pada suatu hari.”
Kataku, ”Demi Allah, beri tahukan kepadaku perihal sedekahnya pada suatu hari yang dimaksud itu.”
Suara itu meneruskan, ”Wahai Syibli, pemuda ini dulunya adalah seorang yang suka berbuat maksiat dan ia pernah berzina. Sampai pada suatu hari ia diperlihatkan Allah pada suatu mimpi yang amat menakutkan baginya.

la bermimpi melihat seekor ular besar yang melilit tubuhnya. Dari mulut ular itu terpancar api yang membakar tubuh­nya hingga hangus. 
Maka ia terbangun dalam keadaan ketakutan. 

Sejak saat itu ia menyibukkan diri dalam beribadah. Sejak saat itu hingga hari ini ia telah ber­ibadah selama dua belas tahun. Selama itu ia selalu dalam keadaan merendahkan diri dan khusyu’ kepada Allah SWT.

Kemarin, seorang pengemis meminta makan untuk hari itu kepadanya. Karena tak punya makanan, maka ia melepas pakaian yang melekat pada tubuhnya dan memberikannya kepada pengemis itu. 

Karena gembira, penge­mis itu mendo’akan kebaikan dan memohonkan ampun bagi pemu­da itu karena bergembira dari se­dekah pemuda itu, sehingga Allah mengabulkan doa pengemis.”

Kisah ini tidak bermaksud megajarkan pembaca untuk jadi pengemis. Akan tetapi kita diharapkan dapat mengambil hikmahnya agar dapat menyadari akan keutamaan sedekah.

Minggu, 10 Juni 2012

::WASIAT TERAKHIR RASULULLAH::



(beberapa hari sebelum beliau wafat)

Pada suatu hari di Madinah, para sahabat mendengar suara Bilal memanggil mereka untuk berkumpul di mesjid. Kecemasan tampak pada wajah2 mereka. Mereka tahu sudah beberapa hari ini Nabi yang mulia jatuh sakit. Segera setelah mereka berada di mesjid, nabi keluar dari hujjrahnya, yaitu ruang kecil tempat tinggal Nabi disebelah masjid. Beliau dipapah Fadel & Ali, wajahnya pucat dan dahinya dibalut kain. Perlahan2 beliau menuju mimbar..

Beberapa orang sahabat sudah mulai terisak, sebagian besar menahan air mata. Nabi lalu naik ke mimbar. Dia berkata, “Para hadirin, mendekatlah, berilah tempat kepada yang berada dibelakang kalian…!”. Orang2 merapat, mereka melihat kebelakang, tapi tidak ada orang lagi. Nabi masih menyuruh agar orang2 untuk merapatkan tubuhnya.
Sampai seorang sahabat bertanya, ” Ya Rasulullah, untuk siapa kami memberi tempat?”
Lalu Nabi berkata, “Untuk para malaikat.”
Rupanya para malaikatpun hadir disitu untuk mendengar wejangan2 dari Rasulullah yang terakhir.



Kata Nabi, “Alhamdulillah, kita memuji Dia, dan memohon pertolonganNya. Kita beriman dan berserah diri kepada-Nya. Kita bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah Yang Esa, tidak ada sekutu bagiNya. Kita bersaksi juga, bahwa Muhammad SAW adalah hamba dan rasul-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejeleken diri kita dan keburukan amal kita. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, tidak seorangpun dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, tidak seorangpun dapat memberinya petunjuk.”
Wahai manusia…..!

Siapapun diantara kalian, yang menemui Allah dengan membawa kesaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah.. kesaksian yang ikhlas, yang tidak dicampuri dengan selain itu, pastilah ia akan masuk surga.

Pada waktu itu, Sayidina Ali bertanya, “Ya Rasulullah, demi ayah dan ibuku, apa yang dimaksud dengan mengucapkan syahadat tanpa dicemari oleh yang lain itu? Jelaskanlah pada kami, supaya kami memahaminya. ”

Lalu Nabi bersabda, “Yang mencemari akidah itu, adalah kerakusan pada dunia. Mengumpulkan dunia bukan secara halal dan bersenang2 dengan harta yang haram. Berbicara dengan perkataan orang2 baik, tetapi berperilaku seperti perilaku para tiran. Barangsiapa menghadap Allah dengan tidak membawa hal2 tersebut sedikitpun, dan mengucapkan Laailaaha illallah..baginya surga.”

Kemudian Rasulullah melanjutkan, “Barangsiapa, mengambil dunia dan meninggalkan akhirat, baginya neraka.
Siapa saja yang membantu permusuhan, para penindas, ataupun orang yang membantu untuk melakukan penindasan, maka malaikat pencabut nyawa akan datang membawa berita kepadanya, bahwa dia akan mendapat laknat Allah dan tempatnya kelak kekal di neraka. Siapa yang melangkahkan kaki kepada penguasa yang zalim, untuk memenuhi kebutuhannya, dia akan menyertai penguasa itu di neraka.

Siapa yang menunjuki jalan kepada penguasa untuk melakukan penindasan , dia akan dihimpun bersama Haman (penasehat firaun), ia, Haman dan penguasa yang zalim itu akan mendapat siksa yang paling berat di neraka. ”

Barangsiapa memuliakan pemilik dunia, dan mencintainya karena ia mengharapkan dunianya, Allah murka kepadanya. Ia akan ditempatkan di neraka paling bawah bersama Qarun.

Barangsiapa membangun rumah hanya untuk kemegahan dan kesombongan, maka pada hari kiamat ia akan dibawa ke tujuh bumi dan kemudian dibelenggu dengan api yang menyala di lehernya dan dilemparkan ke neraka.

Para sahabat bertanya, “Ya Rasul Allah, apa artinya membangun rumah untuk kemegahan dan kesombongan itu?”

Jawab Rasulullah, “Membangun rumah lebih dari keperluannya, atau membangun untuk menyombongkan dirinya, diatas orang lain.”

Barangsiapa yang membayar upah buruhnya secara zalim, tidak membayarnya dengan upah yang layak, Allah akan menghapuskan seluruh amal sholehnya dan ia tidak akan mencium bau surga, padahal bau surga itu tercium dari jarak 500 tahun.

Barangsiapa menikahi seorang wanita dengan harta yang halal tetapi karena menginginkan kemegahan dan kesombongan, Allah tidak akan memberinya bekal kecuali kehinaan dan kerendahan sesuai dengan kadar kesenangannya, Allah akan menyuruhnya berdiri di
tepian jahannam, dan kemudian jatuh ke dalamnya sejauh 70 kharif (ukuran panjang).

Siapa yang merampas mahar istrinya, atau tidak membayarnya disisi Allah, ia menjadi penzina.. Allah akan berkata kepadanya di hari kiamat, aku menikahkan kamu kepada hambaKu dengan perjanjianKu, engkau tidak memenuhi perjanjian itu. Allah akan menagih hak istrinya. Dan bila ia tidak sanggup membayar dengan seluruh pahalanya, ia akan dilemparkan di api neraka.

Siapa yang menyakiti tetangga tanpa hak, Allah akan melarang mencium bau surga dan menempatkannya di neraka. Ketahuilah Allah akan meminta pertanggungjawaban atas hak tetanggamu. Barangsiapa yang melalaikan hak tetangganya, dia bukan golongan kami.
Siapa yang menghianati tetangganya dengan sejengkal tanah saja, ia akan dibelenggu api sampai ke tujuh kepala bumi sehingga ia dimasukkan ke neraka.

Barangsiapa menahan kebutuhan pokok dari tetangganya ketika memerlukannya, Allah akan menahan anugerahnya pada hari kiamat. Allah akan menyuruh ia meminta bantuan pada dirinya sendiri. Barangsiapa meminta bantuan hanya pada dirinya saja, ia binasa. Allah tidak akan menerima alasan bagi orang itu.

Siapa saja yang merendahkan orang miskin muslim karena kemiskinannya, dan memandang rendah kepadanya, ia sudah memandang rendah hak Allah, ia akan terus menerus berada dalam kemurkaan Allah sampai si miskin itu ridho kepadanya.

Barangsiapa yang mampu berbuat maksiat dengan seorang perempuan, tetapi kemudian meninggalkannya, karena takut kepada Allah, Allah mengharamkan neraka baginya dan memberinya kedamaian pada hari yang sangat mengerikan. Dan ia dimasukkan ke surga.
Tetapi bila ia melakukan maksiat dengan perempuan itu, Allah mengharamkan surga baginya, dan memasukkannya kedalam neraka.

Barangsiapa memperoleh harta secara haram, Allah tidak akan menerima sedekah, haji & umrahnya. Allah menuliskan dosa untuk setiap pahala dari perbuatannya itu, dan perbekalan yang tinggal baginya setelah itu mengantarkannya ke neraka.

Barangsiapa meninggalkan harta yang haram, padahal ia sanggup memperolehnya karena takut kepada Allah, dia akan selalu dalam kecintaan Allah dan kasihNya. Sehingga ia diperintahkan untuk memasuki ke surga.

Barangsiapa yang menipu orang islam dengan jual belinya, ia bukan umatKu. Pada hari kiamat, ia akan digabungkan bersama orang2 yahudi. Ketahuilah siapa yang menipu orang, ia bukan muslim.

Barangsiapa mempunyai istri, kemudian istrinya menyakiti suaminya, Allah tidak akan menerima sholat perempuan itu dan segala kebaikan yang dilakukannya. Sampai ia membantu dan menyenangkan suaminya kembali, walaupun ia berpuasa terus menerus, & sholat malam, membebaskan budak & menginfakkan hartanya di jalan Allah.

Begitupula suami. Akan mendapat dosa dan siksa yang sama, jika ia menyakiti dan berbuat zalim kepada istrinya.
Barangsiapa tidur dan dalam hatinya ada niat untuk menghianati orang Islam, ia tidur dalam kemurkaan Allah. Ia memasuki waktu subuh juga dengan kemurkaan Allah. Kecuali bila ia bertobat. Jika ia mati dalam keadaan itu, maka ia mati bukan dalam keadaan Islam.

Ketahuilah, siapa yang menghianati Kami, ia bukan golongan Kami.
Siapa yang menghianati Kami, ia bukan golongan Kami.
Siapa yang menghianati Kami, ia bukan golongan Kami.

Barangsiapa menggunjingkan saudaranya yang muslim, batallah puasanya, dan rusaklah wudhunya, bila ia mati dalam keadaan itu, ia mati dengan menghalalkan apa yang diharamkan Allah.

Barangsiapa berjalan untuk mengadu domba orang, Allah akan memenuhi kuburannya dengan api, yang membakarnya sampai hari kiamat. Barangsiapa yang mengendalikan amarahnya, dan memaafkan saudaranya yang muslim, Allah akan memberikan padanya pahala syahid.

Ketahuilah..barangsiapa mendengar kekejian, kemudian menyebarkannya, maka ia seperti orang yang melakukannya.
Barangsiapa mendengar kebajikan, kemudian ia menyebarkannya, ia mendapat pahala seperti orang yang melakukannya.

Barangsiapa menjadi imam bagi suatu kaum dengan seijin mereka, serta merekapun ridho kepadanya, kemudian, ia menyederhanakan, meringankan, bacaan ruku’, sujud, duduk dan berdirinya , maka ia memperoleh pahala seperti mereka.

Dan barangsiapa menjadi imam pada suatu kaum, tetapi tidak meringankan bacaannya, ruku’nya, sujudnya, duduknya dan berdirinya, maka Allah menolak sholatnya. Dan sholatnya tidak melebihi tenggorokannya.

Kedudukannya di hadapan Allah seperti kedudukan penguasa yang zalim yang tiran yang tidak mensejahterakan rakyatnya serta tidak mengindahkan perintah allah.
Sayyidina Ali berdiri dan bertanya, “Ya Rasul Allah, demi ayah & ibuku, apa kedudukan penguasa zalim dan tiran yang tidak menyejahterakan rakyatnya di hadapan Allah?”

Lalu Nabi bersabda, ” Ia termasuk yang keempat diantara orang yang paling berat siksanya pada hari kiamat. Yaitu iblis, firaun, pembunuh dan penguasa tiran.”
Barangsiapa berusaha mendamaikan dua orang yang bermusuhan, para malaikat akan membacakan doa baginya,sampai ia menyelesaikan usahanya itu dan ia diberi pahala malam qadar.

Dan barangsiapa berusaha memutuskan hubungan persaudaraan diantara dua orang, ia mendapat dosa sebesar pahala yang diterima oleh orang yang mendamaikan tadi.
Ditetapkan laknat Allah baginya, ia masuk ke neraka jahannam dengan siksa yang berlipat ganda.

Barangsiapa berusaha membela dan memberi manfaat kepada saudaranya, maka baginya pahala orang mujahiid di jalan Allah.
Barangsiapa berjalan menyebarkan aib saudaranya sesama muslim, dan mengungkapkan hal yang mempermalukannya, maka langkah pertamanya adalah langkah ke neraka dan Allah akan mempermalukan ia di hadapan seluruh makhluk.

Barangsiapa membimbing orang buta sampai ke masjid atau kerumahnya untuk memenuhi keperluannya, Allah akan memberikan pahala utk setiap langkahnya. Yang besarnya sama dengan membebaskan budak. Malaikat tidak henti2nya berdoa baginya. Sampai ia berpisah dengan orang buta itu.

Dan barangsiapa mencukupi keperluan orang buta sampai ia memenuhinya, Allah membebaskannya dari 2 hal, neraka dan kemunafikan. Allah akan memenuhi 70.000 keperluannya di dunia. Ia tidak henti2nya berada dalam naungan rahmat Allah sampai ia kembali.

Barangsiapa berusaha memenuhi keperluan orang sakit, ia keluar dari dosa2nya, seperti ketika ia dilahirkan dari perut ibunya.
Seorang anshar bertanya, “Wahai rasulullah, bagaimana bila yang sakit itu keluarganya sendiri?”

Nabi menjawab, “Manusia yang paling besar pahalanya adalah yang berusaha memenuhi keperluan keluarganya.
Barangsiapa melalaikan keluarganya, memutuskan kasih sayangnya, Allah akan mengharamkan balasan yang baik baginya pada hari ketika ia membalas orang2 baik, Allah akan melalaikannya.

Barangsiapa yang Allah lalaikan pada hari akhirat, ia berada diantara orang2 yang celaka. sehingga ia berusaha mencari jalan keluar, tetapi tidak akan pernah bisa keluar.
Waktu itu rasulullah mengakhiri khutbahnya dengan berkata, “Wahai manusia, sudah tua usiaku, sudah rapuh tulangku, sudah lemah tubuhku, sudah siap diriku, sudah besar kerinduanku untuk menemui Tuhanku. Saya kira inilah hari terakhir antara aku dan kalian. Selama aku hidup, kalian menyaksikanku. Sesudah aku mati, Allah akan menjadi khalifahku bagi setiap mukmin laki2 dan perempuan.”

Pertemuan nabi dengan sahabat2nya hari itu berakhir dengan tangisan. Beberapa hari setelah itu, Nabi berwasiat kepada Ali bin abi Thalib Untuk memandikan dan mengkafani bila ia telah berangkat menemui Sahabat Agung.

Nabi memanggil Bilal untuk sekali lagi mengumpulkan orang di mesjid. Sambil bersandar pada tongkatnya, dan masih dikompres dengan sorbannya, Nabi bersabda, “Wahai sahabat2ku, menurut kalian, nabi macam apakah aku ini?.

Bukankah aku berjuang bersama kalian, bukankah pernah sobek bahuku, bukankah dahiku pernah berdebu, bukankah pernah darah mengalir di wajahku dan membasahi janggutku, bukankah telah kutanggung duka dan derita menghadapi kaumku yang bodoh, bukankah pernah kuikatkan batu di perutku untuk menahan rasa lapar.

Para sahabat serentak menjawab, “Benar wahai rasul Allah. Anda telah memikul semuanya dengan sabar dan tabah..anda telah menolak kemungkaran, sehingga anda menghadapi cobaan2 karena Allah. semoga Allah membalas kebaikan anda dengan pahala yang paling utama.”

Tidak lama setelah peristiwa itu, hari senin, 12 Rabiul Awal 11 H, manusia yang mulia itu menembuskan nafas terakhir. Madinah berkabung, mereka menangisi kepergian Nabi.

Rabu, 06 Juni 2012

::MAKNA C.I.N.T.A::



Cinta adalah salah satu sumber kekuatan unik dalam diri manusia. Ia menjadi tenaga penggerak hati dan jiwa yang akan menghasilkan sikap, perbuatan dan perilaku. Cinta boleh diurai dalam sebait sajak dari filem laris indonesia, Ketika Cinta Bertasbih:

Cinta adalah kekuatan yg mampu
mengubah duri jadi mawar
mengubah cuka jadi anggur
mengubah sedih jadi riang
mengubah amarah jadi ramah
mengubah musibah jadi muhibah.

Namun demikian, cinta juga boleh menghasilkan perubahan yang sebaliknya: mengubah mawar menjadi duri, dan seterusnya.

Hal yang demikian boleh terjadi kerana cinta bersemayam di dalam hati yang bersifat labil. Seperti sabda Rasulullah saw. hati itu bersifat ketua terbolak-balik bagaikan bulu yang terombang-ambing oleh angin yang berputar-putar.

Sebagaimana amal-amal dan perilaku kita yang sentiasa bersumber dari niat dan motivasi di dalam hati, maka cinta pun boleh diwujudkan dengan dasar niat yang bermacam-macam bentuk. Ada cinta yang tulus, penuh kerelaan. Namun ada pula cinta yang penuh duri dan racun. Ada cinta yang merupakan buah keimanan dan ketaqwaan. Namun ada pula cinta yang berlandaskan nafsu hina.

Bagi seorang muslim dan beriman, cnta terbesar dan cinta hakiki ialah cinta kepada Allah. Bentuk cinta dapat kita wujudkan dalam berbagai rupa tanpa batas ruang dan waktu dan kepada siapa atau apa saja asalkan semuanya bersumber dari kecintaan kita kepada Allah dan karena menggapai ridha-Nya.

Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. (Al-Baqarah: 165)

Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (ikutilah Muhammad saw.), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. (Ali Imran: 31)

“Tali iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR. At Tirmidzi)

Kata-kata mutiara tentang cinta

Agar cinta tidak menjerumuskan kita ke dalam lubang kehinaan, ada baiknya kita mengambil hikmah dari sumber-sumber islam dan perkataan para ulama berikut ini.

Cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia, ia laksana setitis embun yang turun dari langit, bersih dan suci.
Cuma tanahnyalah yang berlain-lainan menerimanya.
Jika ia jatuh ke tanah yang tandus, tumbuhlah oleh kerana embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipu, langkah serong dan lain-lain perkara yang tercela.
Tetapi jika ia jatuh kepada tanah yang subur, di sana akan tumbuh kesuciaan hati, keikhlasan, setia budi pekerti yang tinggi dan lain-lain perangai yang terpuji.


Cinta bukan mengajar kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan mengajar kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan. Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat.


Tanda cinta kepada Allah adalah banyak mengingat (menyebut) Nya, karena tidaklah engkau menyukai sesuatu kecuali engkau akan banyak mengingatnya.

Ar Rabi’ bin Anas (Jami’ al ulum wal Hikam, Ibnu Rajab)

Aku tertawa (heran) kepada orang yang mengejar-ngejar (cinta) dunia padahal kematian terus mengincarnya, dan kepada orang yang melalaikan kematian padahal maut tak pernah lalai terhadapnya, dan kepada orang yang tertawa lebar sepenuh mulutnya padahal tidak tahu apakah Tuhannya ridha atau murka terhadapnya.

Salman al Farisi (Az Zuhd, Imam Ahmad)

Sesungguhnya apabila badan sakit maka makan dan minum sulit untuk tertelan, istirahat dan tidur juga tidak nyaman. Demikian pula hati apabila telah terbelenggu dengan cinta dunia maka nasehat susah untuk memasukinya.

Malik bin Dinar (Hilyatul Auliyaa’)

Cintailah kekasihmu sekedarnya saja, siapa tahu nanti akan jadi musuhmu. Dan bencilah musuhmu sekedarnya saja, siapa tahu nanti akan jadi kekasihmu.

Ali bin Abi Thalib

Engkau berbuat durhaka kepada Allah, padahal engkau mengaku cinta kepada-Nya? Sungguh aneh keadaan seperti ini. Andai kecintaanmu itu tulus, tentu engkau akan taat kepada-Nya. Karena sesungguhnya, orang yang mencintai itu tentu selalu taat kepada yang ia cintai.

A’idh Al-Qorni

Demikianlah beberapa kutipan dari sedikit tokoh-tokoh islam yang boleh kita ambil hikmahnya. Semoga Allah memudahkan saya untuk menambah koleksi ini dan memberikan manfaat kepada kita semua,,

SIRRUNAA ALAA BARAKATILLAH

رضا الله معنا


Senin, 04 Juni 2012

::PROPOSAL NIKAH::


Latar Belakang

Ibunda dan Ayahanda yang sangat saya hormati, saya cintai dan sayangi, semoga Allah selalu memberkahi langkah-langkah kita dan tidak putus-putus memberikan nikmatNya kepada kita. Amin

Ibunda dan Ayahanda yang sangat saya hormati..sebagai hamba Allah, saya telah diberi berbagai nikmat. Maha Benar Allah yang telah berfirman : "Kami akan perlihatkan tanda-tanda kebesaran kami di ufuk-ufuk dan dalam diri mereka, sehingga mereka dapat mengetahui dengan jelas bahwa Allah itu benar dan Maha Melihat segala sesuatu".

Nikmat tersebut diantaranya ialah fitrah kebutuhan biologis, saling membutuhkan terhadap lawan jenis.. yaitu: Menikah ! Fitrah pemberian Allah yang telah lekat pada kehidupan manusia, dan jika manusia melanggar fitrah pemberian Allah, hanyalah kehancuran yang didapatkannya..Na'udzubillah ! Dan Allah telah berfirman : "Janganlah kalian mendekati zina, karena zina adalah perbuatan yang buruk lagi kotor" (Qs. Al Israa' : 32).

Ibunda dan Ayahanda tercinta..melihat pergaulan anak muda dewasa itu sungguh amat memprihatinkan, mereka seolah tanpa sadar melakukan perbuatan-perbuatan maksiat kepada Allah. Seolah-olah, dikepala mereka yang ada hanya pikiran-pikiran yang mengarah kepada kebahagiaan semu dan sesaat. Belum lagi kalau ditanyakan kepada mereka tentang menikah. "Saya nggak sempat mikirin kawin, sibuk kerja, lagipula saya masih ngumpulin barang dulu," ataupun Kerja belum mapan , belum cukup siap untuk berumah tangga¡¨, begitu kata mereka, padahal kurang apa sih mereka. Mudah-mudahan saya bisa bertahan dan bersabar agar tak berbuat maksiat. Wallahu a'lam.

Ibunda dan Ayahanda tersayang..bercerita tentang pergaulan anak muda yang cenderung bebas pada umumnya, rasanya tidak cukup tinta ini untuk saya torehkan. Setiap saya menulis peristiwa anak muda di majalah Islam, pada saat yang sama terjadi pula peristiwa baru yang menuntut perhatian kita..Astaghfirullah.. Ibunda dan Ayahanda..inilah antara lain yang melatar belakangi saya ingin menyegerakan menikah.

Dasar Pemikiran

Dari Al Qur¡¦an dan Al Hadits :

1. "Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. JIKA MEREKA MISKIN ALLAH AKAN MENGKAYAKAN MEREKA DENGAN KARUNIANYA. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui." (QS. An Nuur (24) : 32).

2. "Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah." (QS. Adz Dzariyaat (51) : 49).
3. ¨Maha Suci Allah yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui¡¨ (Qs. Yaa Siin (36) : 36).

4. “Bagi kalian Allah menciptakan pasangan-pasangan (istri-istri) dari jenis kalian sendiri, kemudian dari istri-istri kalian itu Dia ciptakan bagi kalian anak cucu keturunan, dan kepada kalian Dia berikan rezeki yang baik-baik” (Qs. An Nahl (16) : 72).

5. “Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Qs. Ar. Ruum (30) : 21).

6. “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi pelindung (penolong) bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasulnya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah ; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Qs. At Taubah (9) : 71).

7. “Wahai manusia, bertaqwalah kamu sekalian kepada Tuhanmu yang telah menjadikan kamu satu diri, lalu Ia jadikan daripadanya jodohnya, kemudian Dia kembangbiakkan menjadi laki-laki dan perempuan yang banyak sekali.” (Qs. An Nisaa (4) : 1).

8. “Wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik. Lelaki yang baik untuk wanita yang baik pula (begitu pula sebaliknya). Bagi mereka ampunan dan reski yang melimpah” (yaitu : Surga) (Qs. An Nuur (24) : 26).

9. “..Maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja..” (Qs. An Nisaa' (4) : 3).

10. “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukminah apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sesungguhnya dia telah berbuat kesesatan yang nyata.” (Qs. Al Ahzaab (33) : 36).

11. “Anjuran-anjuran Rasulullah untuk Menikah : Rasulullah SAW bersabda: "Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku !" (HR. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a.).

12. “Empat macam diantara sunnah-sunnah para Rasul yaitu : berkasih sayang, memakai wewangian, bersiwak dan menikah” (HR. Tirmidzi).

13. “Dari Aisyah, "Nikahilah olehmu kaum wanita itu, maka sesungguhnya mereka akan mendatangkan harta (rezeki) bagi kamu¡¨ (HR. Hakim dan Abu Dawud). 14. Jika ada manusia belum hidup bersama pasangannya, berarti hidupnya akan timpang dan tidak berjalan sesuai dengan ketetapan Allah SWT dan orang yang menikah berarti melengkapi agamanya, sabda Rasulullah SAW: "Barangsiapa diberi Allah seorang istri yang sholihah, sesungguhnya telah ditolong separoh agamanya. Dan hendaklah bertaqwa kepada Allah separoh lainnya." (HR. Baihaqi).

14. “Dari Amr Ibnu As, Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasannya ialah wanita shalihat.” (HR. Muslim, Ibnu Majah dan An Nasai).

15. "Tiga golongan yang berhak ditolong oleh Allah (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Hakim) :
a. Orang yang berjihad / berperang di jalan Allah.
b. Budak yang menebus dirinya dari tuannya.
c. Pemuda / i yang menikah karena mau menjauhkan dirinya dari yang haram."

16. "Wahai generasi muda ! Bila diantaramu sudah mampu menikah hendaklah ia nikah, karena mata akan lebih terjaga, kemaluan akan lebih terpelihara." (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas'ud).

17. “Kawinlah dengan wanita yang mencintaimu dan yang mampu beranak. Sesungguhnya aku akan membanggakan kamu sebagai umat yang terbanyak” (HR. Abu Dawud).

18. “Saling menikahlah kamu, saling membuat keturunanlah kamu, dan perbanyaklah (keturunan). Sesungguhnya aku bangga dengan banyaknya jumlahmu di tengah umat yang lain” (HR. Abdurrazak dan Baihaqi).

19. “Shalat 2 rakaat yang diamalkan orang yang sudah berkeluarga lebih baik, daripada 70 rakaat yang diamalkan oleh jejaka (atau perawan)” (HR. Ibnu Ady dalam kitab Al Kamil dari Abu Hurairah).

20. “Rasulullah SAW. bersabda : "Seburuk-buruk kalian, adalah yang tidak menikah, dan sehina-hina mayat kalian, adalah yang tidak menikah" (HR. Bukhari).

21. ”Diantara kamu semua yang paling buruk adalah yang hidup membujang, dan kematian kamu semua yang paling hina adalah kematian orang yang memilih hidup membujang” (HR. Abu Ya¡¦la dan Thabrani).

22. “Dari Anas, Rasulullah SAW. pernah bersabda : Barang siapa mau bertemu dengan Allah dalam keadaan bersih lagi suci, maka kawinkanlah dengan perempuan terhormat.” (HR. Ibnu Majah,dhaif).

23. “Rasulullah SAW bersabda : Kawinkanlah orang-orang yang masih sendirian diantaramu. Sesungguhnya, Allah akan memperbaiki akhlak, meluaskan rezeki, dan menambah keluhuran mereka” (Al Hadits).

*** Tujuan Pernikahan

1. Melaksanakan perintah Allah dan Sunnah Rasul.
2. Melanjutkan generasi muslim sebagai pengemban risalah Islam.
3. Mewujudkan keluarga Muslim menuju masyarakat Muslim.
4. Mendapatkan cinta dan kasih sayang.
5. Ketenangan Jiwa dengan memelihara kehormatan diri (menghindarkan diri dari perbuatan maksiat / perilaku hina lainnya).
6. Agar kaya (sebaik-baik kekayaan adalah isteri yang shalihat).
7. Meluaskan kekerabatan (menyambung tali silaturahmi / menguatkan ikatan kekeluargaan)

*** Kesiapan Pribadi

1. Kondisi Qalb yang sudah mantap dan makin bertambah yakin setelah istikharah. Rasulullah SAW. bersabda : “Man Jadda Wa Jadda” (Siapa yang bersungguh-sungguh pasti ia akan berhasil melewati rintangan itu).
2. Termasuk wajib nikah (sulit untuk shaum).
3. Termasuk tathhir (mensucikan diri).
4. Secara materi, Insya Allah siap. “Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya¨ (Qs. At Thalaq (65) : 7)

*** Akibat Menunda atau Mempersulit Pernikahan

* Kerusakan dan kehancuran moral akibat pacaran dan free sex.
* Tertunda lahirnya generasi penerus risalah.
* Tidak tenangnya Ruhani dan perasaan, karena Allah baru memberi ketenangan dan kasih sayang bagi orang yang menikah.
* Menanggung dosa di akhirat kelak, karena tidak dikerjakannya kewajiban menikah saat syarat yang Allah dan RasulNya tetapkan terpenuhi.
* Apalagi sampai bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya. Rasulullah SAW. bersabda: "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia bersunyi sepi berduaan dengan wanita yang tidak didampingi mahramnya, karena yang menjadi pihak ketiganya adalah syaitan." (HR. Ahmad) dan "Sungguh kepala salah seorang diantara kamu ditusuk dengan jarum dari besi lebih baik, daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya" (HR. Thabrani dan Baihaqi).. Astaghfirullahaladzim.. Na'udzubillahi min dzalik

*** Namun, umumnya yang terjadi di masyarakat di seputar pernikahan adalah sebagai berikut ini :

* Status yang mulia bukan lagi yang taqwa, melainkan gelar yang disandang:Ir, DR, SE, SH, ST, dsb
* Pesta pernikahan yang wah / mahar yang tinggi, sebab merupakan kebanggaan tersendiri, bukan di selenggarakan penuh ketawadhu'an sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. (Pernikahan hendaklah dilandasi semata-mata hanya mencari ridha Allah dan RasulNya. Bukan di campuri dengan harapan ridha dari manusia (sanjungan, tidak enak kata orang). Saya yakin sekali.. bila Allah ridha pada apa yang kita kerjakan, maka kita akan selamat di dunia dan di akhirat kelak.)
* Pernikahan dianggap penghalang untuk menyenangkan orang tua.
* Masyarakat menganggap pernikahan akan merepotkan Studi, padahal justru dengan menikah penglihatan lebih terjaga dari hal-hal yang haram, dan semakin semangat menyelesaikan kuliah.

*** Memperbaiki Niat :

Innamal a'malu binniyat....... Niat adalah kebangkitan jiwa dan kecenderungan pada apa-apa yang muncul padanya berupa tujuan yang dituntut yang penting baginya, baik secara segera maupun ditangguhkan.

*** Niat Ketika Memilih Pendamping

Rasulullah bersabda "Barangsiapa yang menikahkan (putrinya) karena silau akan kekayaan lelaki meskipun buruk agama dan akhlaknya, maka tidak akan pernah pernikahan itu dibarakahi-Nya, Siapa yang menikahi seorang wanita karena kedudukannya, Allah akan menambahkan kehinaan kepadanya, Siapa yang menikahinya karena kekayaan, Allah hanya akan memberinya kemiskinan, Siapa yang menikahi wanita karena bagus nasabnya, Allah akan menambahkan kerendahan padanya, Namun siapa yang menikah hanya karena ingin menjaga pandangan dan nafsunya atau karena ingin mempererat kasih sayang, Allah senantiasa memberi barakah dan menambah kebarakahan itu padanya."(HR. Thabrani).

"Janganlah kamu menikahi wanita karena kecantikannya, mungkin saja kecantikan itu membuatmu hina. Jangan kamu menikahi wanita karena harta / tahtanya mungkin saja harta / tahtanya membuatmu melampaui batas. Akan tetapi nikahilah wanita karena agamanya. Sebab, seorang budak wanita yang shaleh, meskipun buruk wajahnya adalah lebih utama". (HR. Ibnu Majah).

Nabi SAW. bersabda : Janganlah kalian menikahi kerabat dekat, sebab (akibatnya) dapat melahirkan anak yang lemah (baik akal dan fisiknya) (Al Hadits).

Dari Jabir r.a., Sesungguhnya Nabi SAW. telah bersabda, ¡§Sesungguhnya perempuan itu dinikahi orang karena agamanya, kedudukan, hartanya, dan kecantikannya ; maka pilihlah yang beragama." (HR. Muslim dan Tirmidzi). Niat dalam Proses Pernikahan

Masalah niat tak berhenti sampai memilih pendamping. Niat masih terus menyertai berbagai urusan yang berkenaan dengan terjadinya pernikahan. Mulai dari memberi mahar, menebar undangan walimah, menyelenggarakan walimah. Walimah lebih dari dua hari lebih dekat pada mudharat, sedang walimah hari ketiga termasuk riya'. "Berikanlah mahar (mas kawin) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan."(Qs. An Nisaa (4) : 4).

Rasulullah SAW bersabda : "Wanita yang paling agung barakahnya, adalah yang paling ringan maharnya" (HR. Ahmad, Al Hakim, Al Baihaqi dengan sanad yang shahih). Dari Aisyah, bahwasanya Rasulullah SAW. telah bersabda, "Sesungguhnya berkah nikah yang besar ialah yang sederhana belanjanya (maharnya)" (HR. Ahmad). Nabi SAW pernah berjanji : "Jangan mempermahal nilai mahar. Sesungguhnya kalau lelaki itu mulia di dunia dan takwa di sisi Allah, maka Rasulullah sendiri yang akan menjadi wali pernikahannya." (HR. Ashhabus Sunan). Dari Anas, dia berkata : " Abu Thalhah menikahi Ummu Sulaim dengan mahar berupa keIslamannya" (Ditakhrij dari An Nasa'i)..Subhanallah..

Proses pernikahan mempengaruhi niat. Proses pernikahan yang sederhana dan mudah insya Allah akan mendekatkan kepada bersihnya niat, memudahkan proses pernikahan bisa menjernihkan niat. Sedangkan mempersulit proses pernikahan akan mengkotori niat. "Adakanlah perayaan sekalipun hanya memotong seekor kambing." (HR. Bukhari dan Muslim)

Pernikahan haruslah memenuhi kriteria Lillah, Billah, dan Ilallah. Yang dimaksud Lillah, ialah niat nikah itu harus karena Allah. Proses dan caranya harus Billah, sesuai dengan ketentuan dari Allah.. Termasuk didalamnya dalam pemilihan calon, dan proses menuju jenjang pernikahan (bersih dari pacaran / nafsu atau tidak). Terakhir Ilallah, tujuannya dalam rangka menggapai keridhoan Allah.

Sehingga dalam penyelenggaraan nikah tidak bermaksiat pada Allah ; misalnya : adanya pemisahan antara tamu lelaki dan wanita, tidak berlebih-lebihan, tidak makan sambil berdiri (adab makanan dimasyarakat biasanya standing party-ini yang harus di hindari, padahal tidak dicontohkan oleh Rasulullah SAW yang demikian), Pengantin tidak disandingkan, adab mendo'akan pengantin dengan do'a : Barokallahu laka wa baroka 'alaikum wa jama'a baynakuma fii khoir.. (Semoga Allah membarakahi kalian dan melimpahkan barakah kepada kalian), tidak bersalaman dengan lawan jenis, Tidak berhias secara berlebihan ("Dan janganlah bertabarruj (berhias) seperti tabarrujnya jahiliyah yang pertama" - Qs. Al Ahzab (33),

*** Meraih Pernikahan Ruhani

Jika seseorang sudah dipenuhi dengan kecintaan dan kerinduan pada Allah, maka ia akan berusaha mencari seseorang yang sama dengannya. Secara psikologis, seseorang akan merasa tenang dan tentram jika berdampingan dengan orang yang sama dengannya, baik dalam perasaan, pandangan hidup dan lain sebagainya. Karena itu, berbahagialah seseorang yang dapat merasakan cinta Allah dari pasangan hidupnya, yakni orang yang dalam hatinya Allah hadir secara penuh. Mereka saling mencintai bukan atas nama diri mereka, melainkan atas nama Allah dan untuk Allah.

Betapa indahnya pertemuan dua insan yang saling mencintai dan merindukan Allah. Pernikahan mereka bukanlah semata-mata pertemuan dua insan yang berlainan jenis, melainkan pertemuan dua ruhani yang sedang meniti perjalanan menuju Allah, kekasih yang mereka cintai. Itulah yang dimaksud dengan pernikahan ruhani. KALO KITA BERKUALITAS DI SISI ALLAH, PASTI YANG AKAN DATANG JUGA SEORANG (JODOH UNTUK KITA) YANG BERKUALITAS PULA (Al Izzah 18 / Th. 2)

*** Penutup

"Hai, orang-orang beriman !! Janganlah kamu mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah kepada kamu dan jangan kamu melampaui batas, karena Allah tidak suka kepada orang-orang yang melampaui batas." (Qs. Al Maidaah (5) : 87).

Karena sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan. Dan sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (Qs. Alam Nasyrah (94) : 5- 6 ).

Ibunda dan Ayahanda yang sangat saya hormati, saya sayangi dan saya cintai atas nama Allah.. demikanlah proposal ini (secara fitrah) saya tuliskan. Saya sangat berharap Ibunda dan Ayahanda.. memahami keinginan saya. Atas restu dan doa dari Ibunda serta Ayahanda..saya ucapkan "Jazakumullah Khairan katsiira". "Ya Allah, jadikanlah aku ridho terhadap apa-apa yang Engkau tetapkan dan jadikan barokah apa-apa yang telah Engkau takdirkan, sehingga tidak ingin aku menyegerakan apa-apa yang engkau tunda dan menunda apa-apa yang Engkau segerakan..


 YA ALLAH BERILAH PAHALA DALAM MUSIBAHKU KALI INI DAN GANTIKAN UNTUKKU YANG LEBIH BAIK DARINYA..

Minggu, 03 Juni 2012

::NASEHAT UNTUK PARA PENDAKWAH::


Kita boleh merasa ikhwan (ikhwanul muslimin)
Kita boleh merasa Hizbut tahrir
Kita boleh merasa Salafi
Kita boleh merasa Muhammadiyah
Kita boleh merasa Nahdhotul Ulama
kita boleh merasa PMII
kita boleh merasa HMI
Kita boleh merasa KAMMI...

Kita boleh berbeda dalam batas-batas yang bisa ditolerir dalam Islam.Karena kita tahu permasalahan ikhtilaf/khilafiyah, ijtihad seorang ulama mungkin benar dan mungkin salah.


Kita juga tahu bahwa kita harus menjauhi dari sikap ekstrem dalam beragama.Untuk itu kita perlu bersatu dalam keragaman jama’ah dalam medan amal Islami dan bekerjasama dalam memperbaiki kerusakan.

Bukankah Tujuan kita satu?

Tegaknya Syariah Islam di Muka bumiTegaknya Khilafah Islamiyah di bawah 1 kepemimpinanTegaknya kalimah “Allaahu Akbar”Tegaknya kalimah “Laa ilaaha Illallah, Muhammadar Rosulullah”

Ingat!!! Sebelum terbentuknya Khilafah, perlu kita perbaiki diri, kita bentuk pribadi yang mempunyai karakter-karakter sbb:
# Salimul Aqidah, Bersih Akidahnya dari sesuatu hal yang mendekatkan dan menjerumuskan dirinya dari lubang syirik.
# Shahihul Ibadah, Benar Ibadahnya menurut AlQur’an dan Assunnah serta terjauh dari segala Bid’ah yang dapat menyesatkannya.

# Matinul Khuluq, Mulia Akhlaknya sehingga dapat menunjukkan sebuah kepribadian yang menawan dan dapat meyakinkan kepada semua orang bahwa Islam adalah rahmat bagi seluruh alam (Rahmatan Lil Alamin)
.# Qowiyul Jismi, Kuat Fisiknya sehingga dapat mengatur segala kepentingan bagi jasmaninya yang merupakan amanah/titipan dari Alloh SWT.

# Mutsaqoful Fikri, Luas wawasan berfikirnya sehingga dia mampu menangkap berbagai informasi serta perkembangan yang terjadi disekitarnya.
# Qodirun ‘alal Kasbi, Mampu berusaha sehingga menjadikannya seorang yang berjiwa mandiri dan tidak mau bergantung kepada orang lain dalam memenuhi segala kebutuhan hidupnya.

# Mujahidun linafsihi, Bersungguh sungguh dalam jiwanya sehingga menjadikannya seseorang yang dapat memaksimalkan setiap kesempatan ataupun kejadian sehingga berdampak baik pada dirinya ataupun orang lain.
# Haritsun ‘ala waqtihi, Efisien dalam memanfaatkan waktunya sehingga menjadikannya sebagai seorang yang pantang menyiakan waktu untuk melakukan kebaikan, walau sedetikpun. karena waktu yang kita gunakan selama hidup ini akan dipertanggungjawabkan dihadapan Alloh SWT.

# Munazhom Fii Su’unihi, Tertata dalam urusannya sehingga menjadikan kehidupannya teratur dalam segala hal yang menjadi tanggung jawab dan amanahnya. Dapat menyelesaikan semua masalahnya dengan baik dengan cara yang baik.
# Naafi’un Li Ghairihi, Bermanfaat bagi orang lain, sehingga menjadikannya seseorang yang bermanfaat dan dibutuhkan. Keberadaannya akan menjadi sebuah kebahagiaan bagi orang lain dan Ketiadaannya akan menjadikan kerinduan pada orang lain.

Bagi Anda yang non muslim (bukan beragama islam) yang secara kebetulan membaca blog iniJanganlah anda merasa khawatir, Islam adalah agama yang menjadi rahmah di seluruh alam , “islam rahmatan lil ‘aalamiin”. jika Hukum Allah ditegakkan, maka agama lain tetap dilindungi dan bebas beribadah. selama tidak melanggar hukum hukum yang sudah ditetapkan.

Islam agama dakwah, yang artinya kewajiban kami adalah berdakwah kepada siapapun. Islam menginginkan semuanya selamat dunia Akhirat. ketika keyakinan agama sudah bulat pada diri seseorang, maka islam tidak memaksakan kehendak, karena tidak ada paksaan dalam beragama di dalam islam.

Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku”. (QS 109:2-6)

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.. (QS 2:256) 

Senin, 28 Mei 2012

::DIANTARA DUA PECINTA DUNIA vs AKHIRAT::



Cinta sebuah kata yang mudah diucapkan namun sulit untuk dibuktikan. cinta memiliki makna yang sangat dalam.
Akan tetapi cinta akan menimbulkan sebuah persepsi yang salah sehingga akan bertabrakan antara pecinta yang satu dengan pecinta yang lain.

Diantara kedua pecinta akan mendapatkan bagian dari apa yang dicintainya. Kebahagiaan abadi atau kebahagian sesaat. Penderitaan berkepanjangan atau derita yang hanya sekejap mata. Siapakah mereka??

Pecinta Dunia dengan Pecinta Akhirat...
Pecinta Hawa Nafsu dengan Pecinta Sunnah...
Pecinta Kemaksiatan dengan Pecinta Keta’atan...
Pecinta makhluk-makhluk dengan Pecinta Nabi-Nya...


Itulah dua jenis pecinta yang memiliki perbedaan pengetahuan tentang hakikat cinta. Untuk pecinta Dunia, mereka memandang dunia adalah segalanya.
Dengan meraih dunia dan mengejar impiannya di dunia akan membuat hidup bahagia. Kekayaan, pangkat, dan jabatan akan membuat hidup lebih tenang dan bahagia. Mereka menghabiskan masa hidupnya untuk mencari kekayaan.
Mereka lupa akan sebuah hakikat kematian. Mereka lupa bahwa umur adalah rahasia Allah yang tidak diketahui oleh makhluk ciptaan-Nya.


Wahai para pecinta dunia..
Wahai sang penjilat harta...
Ingatlah akan umurmu..
Engkau menganggap akan hidup sekian tahun lagi...
Mencari harta dunia
Namun belum berapa tahun
Engkau telah dijemput maut
Engkau telah mendapatkan harta
Tapi engkau tidak merasakannya
Sedikitpun.. sama sekali


Bandingkan dengan pecinta akhirat.
Hidupnya senantiasa mengingat Allah.
Lisannya selalu basah dengan dzikrullah.
Waktunya ia habiskan untuk menuntut ilmu-ilmi Allah.
Sehingga terpancar di wajahnya keikhlasan, kebahagiaan abadi meskipun fisiknya lemah, badannya kurus namun memiliki jiwa yang kuat, hati yang bersih tanpa harus memikirkan dunianya.
Tanpa harus gelisah dengan hartanya.

Karena ia menilai bahwa harta akan lenyap.
Jika hidupnya ia gunakan untuk mencari harta, ia yakin bahwa ia tidak akan tenang karena ia harus menjaganya.
Sedangkan mencari ilmu malah ilmu yang akan menjaga dirinya.
Menjadi penerang dalam hidupnya dan menjadi cahaya dalam kegelapan malam, kegelapan bawah tanah.

Lihatlah Pecinta hawa nafsu, syahwat dan kemaksiatan.
Hari-harinya dipenuhi dengan maksiat. Siang dan malam ia berbuat maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya baik dengan sembunyi-sembunyi maupun dengan terang-terangan.
Mereka lupa bahwa Allah pencipta sunyinya malam, bahwa Allah maha mengetahui termasuk daun-daun yang berguguran, bahwa Allah senantiasa mengetahui perbuatan hamba-Nya.

Seandainya mereka mau merenung pasti mereka akan memilih menjadi pecinta keta’atan dan pecinta sunnah-sunnah Nabi-Nya.
Mereka akan selalu menghidupkan sunnah. Mereka membuktikan kecintaannya kepada Nabi-Nya karena mereka yakin bahwa untuk selamat dunia ahirat adalah mengikuti beliau, sunnah-sunnah beliau.
Mereka lebih memilih menjadi singa-singa sunnah Rasulillah Shallallaahu’alaihi wasallaam.

Sungguh hati akan menjadi miris, lisan sulit untuk berucap melihat pecinta-pecinta yang mencintai makhluk-makhluk selain Allah ta’ala. Mereka mencintai artis-artis murahan dan penyanyi-penyanyi kesesatan yang suaranya tidak lebih dari ringkikan khimar (keledai). Mulut-mulutnya dipenuhi dengan nyanyian, telinganya ia beri makan dengan musik-musik, matanya ia suguhkan dengan wanita-wanita penyeru api neraka.

Sehingga hatinya menjadi mati dan tidak mendengar seruan Allah dan Rasul-Nya. Pantas…pantaslah hati menjadi keras, air mata sulit menetes. Mereka mencintai makhluk-makhluk dimana umat tidak pernah mengenal jasa-jasanya terhadap islam.

Setiap hari,setiap saat seruan dzikrusyaitan [mengingat syaitan] ,nyanyian,lagu-lagu bergema menutup telinga,yang juga menutup hati mereka dari dzikrullah [mengingat allah]

Pernahkah engkau melihat sang pecinta nyanyian,kemaksiatan
mereka duduk di majelis ilmu, mendengarkan, dan mengamalkan ilmunya??
Kallaa tsumma kalla..
Pernahkah engkau melihat, mereka sholat lalu bersimpuh
Menangis bersujud di hadapan Allah?
Sangat jauh…
Karena dzikrusyaithon, penyeru kesesatan dan pecinta kemaksiatan, nyanyian, musik-musik akan membawa kepada penderitaan, akan menjauhkan dari dzikrullah.





Sahabat,saudara/i ku fillah…jadilah pecinta pecinta yang mencintai Allah dan Rasul-Nya karena hanya dengan cinta yang lurus dan memahami hakikat cinta maka Allah akan menjanjikannya surga bersama Rasul-Nya. Kita meyakini bahwa kita adalah manusia-manusia yang banyak berbuat salah dan dosa maka sepantasnya memilih pecinta yang dicintai Allah dan Rasul-Nya kecuali bagi mereka yang hatinya sudah mati, jauh dari rahmat dan hidayah Allah akan memilih menjadi pecinta syaiton dan neraka jahannam.

Seandainya kita bertanya kepada orang-orang di sekeliling kita dari berbagai agama, bangsa, profesi dan status sosial tentang cita-cita mereka hidup di dunia ini tentu jawaban mereka sama "kami ingin bahagia". Bahagia adalah keinginan dan cita-cita semua orang. Orang mukmin ingin bahagia demikian juga orang kafir pun ingin bahagia.

Orang yang berprofesi sebagai pencuri pun ingin bahagia dengan profesinya. Melalui kegiatan menjual diri, seorang pelacur pun ingin bahagia. Meskipun semua orang ingin bahagia, mayoritas manusia tidak mengetahui bahagia yang sebenarnya dan tidak mengetahui cara untuk meraihnya.

Meskipun ada sebagian orang merasa gembira dan suka cita saat hidup di dunia, akan tetapi kecemasan, kegalauan dan penyesalan itu merusak suka ria yang dirasakan. Sehingga sebagian orang selalu merasakan kekhawatiran mengenai masa depan mereka. Terlebih lagi ketakutan terhadap kematian.

Allah Ta'ala berfirman:

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan". (Al-Jumu'ah: 8)


Jika di antara kita yang bertanya-tanya bagaimanakah cara untuk menjadi orang yang berbahagia, maka Allah sudah memberikan jawabannya dengan firman-Nya;

"Barang siapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta." (QS. Thoha: 123-124)


Dan juga dalam firman-Nya:
"Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (QS. An-Nahl: 97)


Kebahagiaan seorang mukmin semakin bertambah ketika dia semakin dekat dengan Tuhannya, semakin ikhlas dan mengikuti petunjuk-Nya. Kebahagiaan seorang mukmin semakin berkurang jika hal-hal di atas makin berkurang dari dirinya.

Seorang mukmin sejati itu selalu merasakan ketenangan hati dan kenyamanan jiwa. Dia menyadari bahwasanya dia memiliki Tuhan yang mengatur segala sesuatu dengan kehendak-Nya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
"Sungguh menakjubkan keadaan orang-orang yang beriman. Sesungguhnya seluruh keadaan orang yang beriman hanya akan mendatangkan kebaikan untuk dirinya. Demikian itu tidak pernah terjadi kecuali untuk orang-orang yang beriman. Jika dia mendapatkan kesenangan maka dia akan bersyukur dan hal tersebut merupakan kebaikan untuknya. Namun jika dia merasakan kesusahan maka dia akan bersabar dan hal tersebut merupakan kebaikan untuk dirinya." (HR. Muslim dari Abu Hurairah)


Inilah yang merupakan puncak dari kebahagiaan.
Kebahagiaan adalah suatu hal yang abstrak, tidak bisa dilihat dengan mata, tidak bisa diukur dengan angka-angka tertentu dan tidak bisa dibeli dengan rupiah maupun dolar. Kebahagiaan adalah sesuatu yang dirasakan oleh seorang manusia dalam dirinya. Hati yang tenang, dada yang lapang dan jiwa yang tidak dirundung malang, itulah kebahagiaan. Bahagia itu muncul dari dalam diri seseorang dan tidak bisa didatangkan dari luar.



Jika Allah menghendaki seorang hamba untuk mendapatkan kebahagiaan dan keberuntungan di dunia dan akhirat, maka Allah akan memberikan taufik kepada dirinya untuk bertaubat, merendahkan diri di hadapan-Nya dan mendekatkan diri kepada Allah dengan berbagai kebaikan yang mampu untuk dilaksanakan.

Oleh karena itu, ada seorang ulama salaf mengatakan:
"Ada seorang yang berbuat maksiat tetapi malah menjadi sebab orang tersebut masuk surga. Ada juga orang yang berbuat kebaikan namun menjadi sebab masuk neraka."Banyak orang bertanya kepada beliau, bagaimana mungkin hal tersebut bisa terjadi?, lantas beliau menjelaskan:"Ada seorang yang berbuat dosa, lalu dosa tersebut selalu terbayang dalam benaknya. Dia selalu menangis, menyesal dan malu kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Hatinya selalu sedih karena memikirkan dosa-dosa tersebut. Dosa seperti inilah yang menyebabkan seseorang mendapatkan kebahagiaan dan keberuntungan. Dosa seperti itu lebih bermanfaat dari berbagai bentuk ketaatan, Karena dosa tersebut menimbulkan berbagai hal yang menjadi sebab kebahagiaan dan keberuntungan seorang hamba. Sebaliknya ada juga yang berbuat kebaikan, akan tetapi kebaikan ini selalu dia sebut-sebut di hadapan Allah. Orang tersebut akhirnya menjadi sombong dan mengagumi dirinya sendiri disebabkan kebaikan yang dia lakukan. Orang tersebut selalu mengatakan ’saya sudah berbuat demikian dan demikian’. Ternyata kebaikan yang dia kerjakan menyebabkan timbulnya ‘ujub, sombong, membanggakan diri dan merendahkan orang lain. Hal-hal ini merupakan sebab kesengsaraan seorang hamba. Jika Allah masih menginginkan kebaikan orang tersebut, maka Allah akan memberikan cobaan kepada orang tersebut untuk menghilangkan kesombongan yang ada pada dirinya. Sebaliknya, jika Allah tidak menghendaki kebaikan pada orang tersebut, maka Allah biarkan orang tersebut terus menerus pada kesombongan dan ‘ujub. Jika ini terjadi, maka kehancuran sudah berada di hadapan mata."


Wallahu ta'ala a'lamu bish showab